SELAMAT DATANG ENSIKLOPEDI TOKOH INDONESIA
Search     A   B     D     F       I       L     N   O   P   Q   R   S     U     W     Y   Z
BERITA

:: Beranda :: Berita :: Profesi :: Politisi :: Pejabat :: Pengusaha :: Pemuka :: Selebriti :: Aneka ::

C © updated 230502
INDEX BERITA   

garis

:::::: Berita garis

:::::: Wawancara garis
:::::: Opini
garis
:::::: Editorial
garis
:::::: Resensi
garis
:::::: Leadership
garis
:::::: Selamat HUT
garis
:::::: Pernikahan
garis
:::::: In Memoriam
garis
:::::: Sebelumnya
garis
:::::: Redaksi
garis

 
garis
garis

 

Megawati-Yudhoyono Favorit


Megawati Soekarnoputri-Susilo Bambang Yudhoyono menduduki posisi terfavorit sebagai urutan teratas (15,5 persen) untuk menjadi pasangan presiden-wakil presiden dalam jajak pendapat yang diselenggarakan Centre for Political Studies-Soegeng Sarjadi Syndicated, yang melibatkan 4.133 responden.
Lima pasangan presiden-wakil presiden lain pada urutan kedua (ke bawah) secara berurut adalah Amien Rais-Yusril Ihza Mahendra (11,5 persen), Amien Rais-Megawati (10,6 persen), Megawati-Hamzah Haz (8,0 persen), dan Amien Rais-Yudhoyono (5,4 persen).
Sementara pilihan partai masih tetap pada Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P), partai pemenang Pemilu 1999 yang akhir-akhir ini banyak dikritik di berbagai media massa, dengan perolehan 29,4 persen. Partai Amanat Nasional (PAN) menduduki urutan kedua (19,8 persen), disusul Partai Persatuan Pembangunan (PPP: 6,6 persen), serta Golongan Karya (Golkar: 5,3 persen). Jumlah responden yang menjawab ”tidak tahu” untuk pilihan pasangan presiden-wakil presiden mencapai 27,8 persen dan untuk pilihan partai 27,1 persen.
Jajak pendapat itu dilakukan oleh Centre For Political Studies-Soegeng Sarjadi Syndicated dengan responden masyarakat kota di Jakarta, Yogyakarta, Surabaya, Medan, dan Makassar yang rata-rata terpelajar. Hasil itu dianalisis oleh pengamat politik Fachry Ali, peneliti Freedom Institute Dr Rizal Mallarangeng, Indonesianis dari Australia Max Lane, dan Kepala Jurusan Ilmu Politik FISIP UI Erry Sophiaan Yudoyoko MSi di Jakarta, Selasa (30/7).
Pengamat sosial politik Fachry Ali memberi komentar bahwa jajak pendapat itu mencerminkan struktur masyarakat pemilih Indonesia yang masih tradisional dan belum begitu rasional. Hal itu ditandai dengan masih dipertimbangkannya faktor simbol partai, tokoh karismatik, asal suku, dan militer. ”Realitas politik kita masih tradisional, yang masih terikat pada tokoh karismatik dan simbol,” katanya.
Pilihan kepada Mega dan PDI-P—yang saat ini di media mendapat banyak kritikan—menunjukkan bahwa masyarakat memandang PDI-P bukan dari kacamata organisasi, tetapi dari karisma Mega. Adapun mengenai pasangan Mega-Yudhoyono yang menduduki urutan pertama, Fachry memandang hal itu merupakan ekspektasi masyarakat, yakni menginginkan presiden yang mempunyai akar massa (Megawati) dan mampu menjaga keamanan (Yudhoyono).
Rizal Mallarangeng dari Freedom Institute mengungkapkan, jajak pendapat ini menunjukkan merosotnya Golkar yang bertukar tempat dengan PAN (nomor 2 pada Pemilu 1999 menjadi nomor 4). Keadaan akan berubah apabila Golkar mencalonkan Jusuf Kalla, dan bukan pemimpin-pemimpin Golkar yang lain. ”Seorang pimpinan Golkar yang sangat dikenal integritasnya di Indonesia bagian timur adalah Jusuf Kalla. Ini saya katakan bukan karena saya orang Makassar, tetapi komposisi Mega-Jusuf Kalla dengan melihat kenyataan Golkar mendapat suara besar di Indonesia bagian timur dan Jawa Barat,” kata Rizal.
 (Tokoh Indonesia)

  

Megawati Soekarnoputri-Susilo Bambang Yudhoyono menduduki posisi terfavorit sebagai urutan teratas (15,5 persen) untuk menjadi pasangan presiden-wakil presiden

 

 

  Editorial

Kapur Sirih

 

Copyright © 2002 Ensiklopedi Tokoh Indonesia. All right reserved. Design and Maintenance by Esero