|
Susilo-Kalla dan Megawati-Hasyim
Maju ke Putaran 2 Pemilu Presiden
Jakarta, 26/03/2004: Pasangan Capres-Cawapres Partai Demokrat Jenderal (Purn)
Susilo Bambang Yudhoyono-Jusuf Kalla dan Pasangan Capres-Cawapres
Megawati Soekarnoputri-Hasyim Muzadi memenangi pemilu presiden
putaran pertama tanggal 5 Juli 2004 dengan masing-masing memperoleh
39.838.184 suara (33,574 persen) dan 31.569.104 suara (26,60 persen).
Kedua pasangan itu maju ke Pemilu Presiden tahap kedua 20 September
2004.
Sementara perolehan suara tiga pasangan Capres-Cawapres lainnya yakni
di urutan tiga Wiranto-Salahuddin Wahid meraih 26,286,788 suara
(22,154%), urutan empat Amien Rais-Siswono Yudo Husodo 17,392,931suara
(14,658%), dan urutan lima Hamzah Haz-Agum Gumelar 3,569,861suara
(3,009%).
Dalam aturan main Pemilu Presiden ditetapkan jika dalam putaran
pertama tidak ada pasangan Capres-Cawapres yang meraih 50% + 1n suara
dengan sedikitnya 20 persen di setiap provinsi dan tersebar lebih dari
setengah jumlah provinsi di Indonesia, maka peraih suara terbanyak 1 dan
2 ditetapkan untuk maju ke putaran kedua Pemilu Presiden.
Hasil rekapitulasi penghitungan suara dari 32 provinsi ditambah hasil
pemilu di luar negeri, jumlah pemilih yang menggunakan hak pilihnya
121.293.844 orang, atau 78,22 persen dari pemilih terdaftar 155.048.803,
lebih rendah dari pemilu legislatif yang 84,07 persen.
Pasangan Yudhoyono-Jusuf meraih kemenangan di 17 provinsi, termasuk di
luar negeri. Pasangan Megawati-Hasyim mengungguli pasangan calon lainnya
di enam provinsi. Pasangan Wiranto-Salahuddin Wahid meraih kemenangan di
tujuh provinsi. Pasangan Amien Rais-Siswono Yudo Husodo meraih
kemenangan di dua provinsi. Pasangan Hamzah Haz-Agum Gumelar tidak
memenang di satu pun provinsi.
Ledakan Bom
Rapat pleno rekapitulasi penghitungan suara hasil pemilu presiden sempat
terganggu ledakan bom di toilet perempuan Gedung KPU, di lantai satu.
Rapat pleno terbuka yang dipimpin Ketua Kelompok Kerja Penghitungan
Suara Rusadi Kantaprawira itu sempat terganggu namun setelah beberapa
saat dapat diteruskan kembali di ruang sidang utama Gedung KPU. Rapat
pleno ditutup sekitar pukul 20.00 wib (26/07/2004).
Seluruh tim saksi pasangan calon menerima rekapitulasi hasil
penghitungan suara, kendati saksi dari pasangan Wiranto-Salahuddin dan
Amien-Siswono menyampaikan sejumlah keberatan.
Saksi pasangan Wiranto-Wahid mengatakan, catatan keberatan itu karena
sikap KPU yang tidak konsisten mengenai sah dan tidaknya surat suara,
yang ditandai dengan dikeluarkannya Surat Edaran (SE) KPU No
1151/15/VII/2004. Ketidakkonsistenan tersebut bukan disebabkan kelalaian
Panitia Pemungutan Suara (PPS) maupun Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK),
melainkan akibat keteledoran KPU. Ketua Tim Kampanye Wiranto, Slamet
Effendi Yusuf, mengatakan akan menggugat SE KPU ke Mahkamah Agung.
Sementara, saksi pasangan Amien-Siswono menegaskan, menerima dan
menandatangani rekapitulasi penghitungan suara untuk 13 provinsi, tetapi
tidak menandatangani untuk 19 provinsi. Pihak Amien-Siswono sendiri
masih akan mengecek data di 19 provinsi tersebut sebagai pertimbangan
perlu-tidaknya mereka mengajukan gugatan hasil pemilu kepada Mahkamah
Konstitusi (MK).
Wakil Ketua KPU Ramlan Surbakti mengakui ketidakkonsistenan KPU dalam
hal surat suara sah itu. Namun itu dilakukan untuk menyelamatkan suara
rakyat. Ia juga mengakui bahwa persoalan yang muncul dalam pemilu
presiden kali ini adalah persoalan administrasi, yang baru terjadi
sekali ini setelah Indonesia melaksanakan sembilan kali pemilu.
Sementara Ketua KPU Nazaruddin Sjamsuddin mengatakan, pihaknya menyambut
baik rencana pasangan calon presiden dan wakil presiden yang akan
mengajukan gugatan perselisihan hasil pemilu presiden dan wakil presiden
ke Mahkamah Konstitusi. *e-ti |
|
|
|
WAWANCARA |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
 |
|
 |
|
|
|
|
|
|
|
 |
Susilo Bambang Yudhoyono
Gaya
dan tutur bicaranya tenang, sistematis dan
berwibawa, sehingga ia populer bagi kaum ibu dan remaja putri.
Ia seorang yang beruntung mengandalkan popularitas politik. Pantas saja ia dijuluki 'Jenderal yang
Tampan". Ia pun mendirikan Partai Demokrat yang kemudian memperoleh suara
signifikan pada Pemilu 2004 dan mengantarnya menjadi Capres.
Megawati Sukarnoputri
Diam (tak banyak bicara)
itu emas, akhirnya menjadi suatu kekuatan bagi Megawati.
Kendati, mendapat tekanan bahkan caci-maki, dia tetap diam
dan sabar. Buahnya, ia pun berhasil menggapai Presiden RI
ke-5, dan ia pun tetap tak banyak bicara. Puteri Bung Karno ini
memiliki kepribadian politik, tak mudah terombang-ambing dan semakin sulit
ditebak.
|
 |
|
|
|
|
|
|
|
|