A B C D E F G H I J K L M N O P Q R S T U V W X Y Z
:: Beranda :: Berita :: Profesi :: Politisi :: Pejabat :: Pengusaha :: Pemuka :: Selebriti :: Aneka ::
  H O M E
 ► Home
 ► Biografi
 ► Versi Majalah
 ► Al-Zaytun
 ► Berita
 ► Wawancara
 ► Pidato
 ► Buku
 ► Galeri
 ► Sahabat
 ► Link
 ► Majalah TI
     ► MTI Khusus
 ► Nusantara
 ► Search
 ► Poling Tokoh
 ► Selamat HUT
 ► Pernikahan
 ► In Memoriam
 ► Redaksi
 ► Buku Tamu
 

 
 
 
  C © updated 20052008  
   
  ► e-ti/ht  
  Nama:
Syaykh Abdussalam Panji Gumilang
Lahir:
Gresik, 30 Juli 1946
Jabatan:
Syaykh al-Ma'had Al-Zaytun
 
 
     
 
BERITA

Ch Robin Simanullang

Al-Zaytun Sumber Inspirasi


Bagian Satu: Setiap kali mengunjungi Al-Zaytun, kami selalu menemukan inspirasi yang menjadi pencerahan dan guide to action untuk berbudaya toleransi dan perdamaian. Juga menjadi ilham dalam pengejawantahan demokrasi dan interdepensi dalam interaksi sosial dan pengungkapan dalam tulisan. Inspirasi (ilham) yang memberi jawaban, bagaimana agar setiap orang (penulis) melalui karyanya menjadi berguna bagi sesama dan rahmat bagi semesta alam.

Di tempat ini (Al-Zaytun) bertaburan cahaya butir-butir inspirasi yang memancar dari hasil karya orang-orang beriman (hamba Allah). Al-Zaytun yang dibangun dan dikelola oleh orang-orang beriman (Islam). Maka, bagi Anda yang ingin berguna bagi sesama dan rahmat bagi semesta alam, jika Anda kesulitan menemukan inspirasi di tempat lain, datanglah ke Ma’had (Kampus) Al-Zaytun.

Kami mungkin dikira terlalu berpromosi tentang lembaga pendidikan Islam, Al-Zaytun, yang berlokasi di pelosok Desa Mekar Jaya, Gantar, Indramayu, Jawa Barat. Tetapi, izinkan kami mengemukakan pandangan dan pengalaman, setiap kali berkunjung ke Al-Zaytun. Kami menyadari, setiap orang tentu mempunyai pandangan dan menjalani pengalaman sendiri, yang mungkin berbeda dari orang lain. Bahkan bisa mungkin sisi pandang dan pengalaman kami tidak selalu persis sama seperti dimaksudkan atau dipahamkan oleh Syaykh dan eksponen Al-Zaytun sendiri.

Sebelum lebih jauh bertutur perihal cahaya butir-butir inspirasi di Al-Zaytun, alangkah baik dipaparkan apa arti dan makna inspirasi yang kami maksudkan dalam konteks ini? Kamus Umum Bahasa Indonesia yang disusun oleh WJS Poerwadarminta (cetakan kelima, 1976), mengartikan inspirasi sebagai ilham; bisikan. Ilham berarti: (1) petunjuk yang datangnya dari Tuhan yang terbit di hati; (2) sesuatu yang menggerakkan hati untuk……

Pengertian inspirasi (inspiration) yang lebih luas terdapat dalam World Book Dictionary (edisi 1978) yaitu: (1) the influence of thought and strong feelings on actions, especially on good actions; (2) any influence that arouses effort to do well; (3) an idea that is inspired; sudden brilliant idea; (4) a suggestion to another; act or causing something to be told or written by another; (5) God’s influence on the mind or soul of man; divine influence; (6) a breathing in; act of drawing air into the lungs; inhalation.

Sementara dalam bahasa Latin, perkataan inspirasi berasal dari dua kata yaitu in dan spiro yang secara harfiah berarti menghembuskan ke dalam. Arti yang hampir sama dalam bahasa Ibrani, kata inspirasi adalah neshama dan nismah yang berarti nafas. Dalam bahasa Arab kata inspirasi adalah fikrah dari asal kata fikrun yang berarti ide, pikiran atau pergerakan pikiran dalam otak.

Jadi, inspirasi (ilham, yang menggerakkan hati dan pikiran) secara intuisi bisa dimaknai semacam nafas, bisikan dan penglihatan yang amat tajam dan menggerakkan (memengaruhi) hati dan pikiran seseorang (penulis) untuk berkemampuan berimajinasi atau mengembangkan perasaan dan pandangannya.

Inspirasi juga bermakna pencerahan (iluminasi) berupa petunjuk dari Tuhan yang terbit di hati dan pikiran sehingga meningkatkan kemampuan pikir, ide, gagasan, perasaan dan imajinasi seseorang. Kemudian secara dinamis, seseorang (penulis) itu mampu mengembangkan visi, prinsip dan kepribadian dalam memilih kata dan cara mengungkapkannya.

Sehingga pengungkapannya bermanfaat untuk menyatakan setiap perbuatan baik, dan pada waktunya menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan mendidik orang dalam kebenaran, penuh toleransi (interdependensi) dan cinta perdamaian. Hal mana seseorang yang diilhami (terinspirasi) itu diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik, berguna bagi sesama dan rahmat bagi semesta alam. Barangkali implementasi inspirasi dan prinsip dalam penulisan (pengungkapan kata, pernyataan dan berita) seperti ini bisa disebut sebagai jurnalisme rahmatan lil alamin dan/atau jurnalisme terang dan garam dunia. Berguna (menggarami) dan rahmat bagi semua, tanpa batas agama, ras, suku dan golongan.

Demikianlah pemaknaan inspirasi, yang cahaya dan butirannya kami temukan bertaburan di Al-Zaytun. Tentu saja, Al-Zaytun bukanlah satu-satunya tempat di mana kita bisa menemukan selaksa ilham (inspirasi). Di banyak tempat yang cinta perdamaian, menghormati persamaan dan perbedaan dalam interaksi yang interdependen, toleran, mencintai alam lingkungan, mencerahkan dan anti kekerasan serta taat, takut dan taqwa kepada Sang Pencipta, Allah Yang Maha Kuasa, pastilah kita dengan mudah memperoleh ilham (inspirasi) seperti dimaksud di atas.

Boleh dinikmati, di semua tempat yang cinta damai, mengembangkan budaya toleransi dan perdamaian, seperti halnya Al-Zaytun, tempat itu laksana gudang atau buku hidup (kamus) inspirasi baru. Tidak dengan maksud membandingkan apalagi mempersamakan, melainkan hanya untuk menginspirasikan, manakala seseorang membaca kitab suci (sesuai kepercayaannya) secara sungguh-sungguh, pastilah dia akan menemukan inspirasi baru. Sudah pun pernah dibaca berulang kali, setiap kali dibaca lagi, akan melahirkan inspirasi baru.

Barang kali baik juga dinikmati, sesuatu (tempat atau visi, ide dan karya) yang cinta damai, setiap kali dikunjungi atau dibaca, dengan hati yang tulus dan pikiran yang jernih, Insya Allah (jika Allah berkehendak), di situ akan ditemukan inspirasi baru (inspirasi seperti dimaksud di atas).

Al-Zaytun Sumber Inspirasi
Dalam tugas keseharian kami, sebagai wartawan, mengelola Website TokohIndonesia.Com — sebuah media online yang tengah dibangun menjadi Ensiklopedi Tokoh Indonesia Online dan diterbitkan sejak tanggal 20 Mei 2002 bertepatan Hari Kebangkitan Nasional — setiap hari kami menerima banyak surat, terutama melalui e-mail. Isi dan maksud surat-surat itu beragam, baik berupa saran, pendapat dan pertanyaan maupun kritik. Surat yang banyak dan beragam itu, bagi kami, juga merupakan sumber inspirasi yang sangat berharga.
Setiap surat itu, apa pun isi dan maksudnya, apalagi yang bersifat membangun, kami maknai sebagai darah baru untuk membangkitkan semangat kerja dan kreativitas. Banyak surat itu menjadi sumber inspirasi bagi setiap crew, terutama redaksi. Sehingga dalam rapat redaksi, diambil satu keputusan bahwa setiap crew, terutama redaksi, wajib membaca surat-surat itu setiap hari.

Kami menyambut dan merespon semua harapan, saran dan kritik dalam surat-surat itu. Di antaranya, saran untuk menampilkan sosok, biografi, tokoh tertentu. Salah satu tokoh yang disarankan agar biografi dan karya-karyanya ditampilkan dalam website itu adalah Syaykh AS Panji Gumilang, pimpinan Ma’had Al-Zaytun. Dia disebut sebagai seorang tokoh fenomenal berkaliber dunia. Kendati ada juga surat yang menyampaikan pendapat berbeda. Ada yang mengaitkannya dengan NII (Negara Islam Indonesia) dan lain sebagainya. Terjadi silang pendapat dalam surat elektronik (e-mail) terbuka yang kami terima kala itu.

Sebelumnya, memang kami sudah pernah mendengar kontroversi tentang Syaykh Al-Zaytun ini. Tetapi, saking banyaknya orang berbicara tentang keburukan orang lain, bahkan menghujat dan menghakimi orang lain, terutama sejak awal reformasi 1998, sebagai manusia biasa juga sebagai seorang jurnalis, kami menjadi memilih lebih tertarik pada hal-hal yang banyak menyatakan kebaikan orang lain, tidak hanya menyatakan kesalahannya, apalagi bila kesalahan itu tidak (belum tentu) pernah dilakukannya atau sudah sangat lama atau hanya perbedaan pemikiran, faham dan pandangan.

Lagi pula, bagi kami, untuk menyongsong ke depan dan menjemput masa depan, tidak perlu selalu berorientasi ke belakang. Kalaupun ada kalanya perlu menoleh ke belakang hanya untuk mengasah kebajikan yang berorientasi kekinian dan masa depan yang lebih baik. Bukan malah menafikan kekinian dan masa depan hanya karena masa lalu. Biarlah masa lalu sebagai bagian dari sejarah yang membimbing setiap orang lebih memiliki kebajikan dan kebijakan menjalani hidup kekinian dan menjemput masa depannya.

Boleh saja, di mata jurnalis lain atau orang lain, hal itu telah menjadi kelemahan kami dalam menyikapi perkembangan baru (pasca reformasi). Namun, bagi kami, biarlah kelemahan itu menjadi kekuatan. Kami ingin mengembangkan jurnalisme yang bermanfaat untuk menyatakan perbuatan baik, dan pada saatnya juga menyatakan kesalahan untuk memperbaiki kelakuan serta mengajar dan mendidik orang dalam kebenaran demi masa depan yang lebih baik. Dengan demikian para jurnalis mutlak diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik secara tulus, bijak dan interdependen, baik itu tatkala menyatakan kesalahan.

Maka bagi kami, sesungguhnya kala itu, surat yang menyatakan bahwa Syaykh AS Panji Gumilang sebagai seorang tokoh fenomenal berkaliber dunia, telah cukup kuat mendorong kami untuk segera bisa menulis kiprah tokoh ini di website Tokoh Indonesia dan Majalah Tokoh Indonesia. Apalagi, salah satu surat itu dari seseorang yang bernama Ryutaro berbunyi: “Saya harap Tokoh Indonesia mengupasnya dengan suci.” Pernyataan dan harapan Ryutaro ini juga ditimpali pembaca (penulis surat) lainnya, tatkala kami dipersalahkan para pembaca lainnya lantaran selalu menonjolkan perbuatan baik orang lain (si tokoh): “Hanya orang yang berhati mulia yang mampu mengapresiasi kebaikan orang lain, seperti yang dilakukan Tokoh Indonesia.”

Memang, salah satu kebiasaan buruk manusia (animal) adalah gemar membicarakan (gossip) kesalahan, kelemahan dan keburukan orang lain dan malah enggan membicarakan kebaikan, kelebihan dan kebenaran orang lain. Ya, memang itu juga menjadi misteri manusia yang semuanya memiliki sisi baik dan buruk (jahat). Yang membedakannya adalah kemauan dan kemampuan seseorang mengedepankan sisi baiknya dan menekan sisi jahatnya. Maka ajaran agama menjadi amat penting untuk membimbing manusia ke arah sisi baiknya, berhati mulia.

Pernyataan berhati mulia ini sungguh suci untuk menginspirasi (mengilhami) kami untuk segera mengirim surat via pos permohonan wawancara kepada Syaykh Panji Gumilang. Dan, berselang kurang dari sepekan, kami juga pantas berbesar hati dan berbahagia, karena tokoh dimaksud merespon sangat terbuka surat permohonan wawancara kami.

Kamis, 19 Februari 2004, adalah hari pertama kami berkesempatan menginjakkan kaki dan wawancara dengan Syaykh Panji Gumilang. Berangkat pagi subuh dari Jakarta, kami disertai Sdr Mangatur Paniroy dan Marjuka Situmorang, menempuh perjalanan selama kurang lebih empat jam menuju Desa Gantar, Haurgeulis, Kabupaten Indramayu, Provinsi Jawa Barat.

Kala itu, sama seperti kini, jalanan dari Haurgeulis menuju Al-Zaytun harus dilalui dengan kecepatan lambat karena berlubang-lubang. Entah kenapa Pemkab Indramayu atau Pemprov Jawa Barat membiarkan jalan ini sering rusak. Ketika kembali dari Al-Zaytun malam harinya melintasi jalan berlubang ini, kami kurang beruntung. Ban depan mobil kami bocor terkelupas batu tajam.

Jalan ini pernah dipoles tatkala Presiden BJ Habibie melintasinya untuk meresmikan Ma’had Al-Zaytun, 27 Agustus 1999. Habibie dan rombongan datang dengan naik Kereta Api Argo Bromo dari Stasiun Gambir sampai ke Stasiun Haurgeulis. Presiden dan rombongan melanjutkan perjalanan menuju kompleks Al-Zaytun dengan naik mobil. Maka, beberapa hari sebelum Presiden Habibie datang, Pomprov Jawa Barat buru-buru memoles jalan itu. Setelah itu, hanya ditambal sulam, sehingga jalanan sempit itu sering berlubang-lubang.

Barangkali, ini kebiasaan yang kurang baik untuk dibiarkan. Sebaiknya, dilintasi atau tidak oleh presiden, jalan seharusnya diperbaiki dan jangan dibiarkan rusak. Apalagi di kawasan itu ada lembaga pendidikan terpadu berskala global yang didirikan dan diasuh oleh Yayasan Pesantren Indonesia. Barangkali, pemerintah belum celik memandang kehadiran lembaga pendidikan ini sebagai investasi dan kekuatan baru untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang berdaya saing tinggi yang amat dibutuhkan bangsa ini demi masa depan yang lebih baik.

Tinjau Setiap Sudut
Setelah kami tiba di kompleks Al-Zaytun, terlihat beberapa pos satpam berjejer setiap beberapa ratus meter untuk memantau dan menjaga keamanan dalam kampus. Penjagaannya cukup rapi dan terkoordinir. Setiap pengunjung baik undangan, tamu atau pers selalu didata dan dilayani sebaik-baiknya. Petugas menuntun kami untuk melapor ke pos penerimaan tamu. Bagi kami, layanan di pos terdepan ini, mencerminkan adanya penegakan dan pemeliharaan disiplin demi ketertiban dan keamanan.

Dalam benak kami langsung terinspirasi, bahwa Islam memang mengajarkan disiplin dengan sangat baik dan patut diteladani. Islam mewajibkan sholat lima waktu dengan disiplin yang ketat. Maka, mau belajar disiplin, silakan belajar dari Islam. Soal ada umat Islam yang kurang disiplin, itu kesalahan orangnya yang kurang bergaya hidup Islami.

Sementara perihal kebebasan, bisa belajar dari Kristen (Kamu adalah orang-orang merdeka, tetapi jangan salah gunakan kemerdekaan itu). Bukan berarti Islam tidak mengajarkan kebebasan atau sebaliknya Kristen tidak mengajarkan disiplin. Hanya sentuhan dan penekanannya ada kekhasannya masing-masing. Dalam pemahaman (inspirasi) kami, Islam mengajarkan kebebasan dalam koridor kedisiplinan, sementara Kristen mengajarkan kedisiplinan dalam koridor kebebasan.

Belum lagi inspirasi itu berlalu, dalam sorotan bola mata tertangkap di setiap pintu masuk kampus terpancang gapura dengan serangkaian kata: Ma’had Al-Zaytun Pusat Pendidikan dan Pengembangan Budaya Toleransi serta Pengembangan Budaya Perdamaian. Ketika membaca tulisan ini, kami tertegun seraya menatap dan membacanya dengan cermat. Sejenak, teringat desas-desus negatif tentang pondok pesantren ini, seolah-olah sebuah lembaga Islam garis keras (meminjam istilah yang sering kali digunakan orang lain). Bahkan ada sebuah majalah menulis dugaan bahwa Osama bin Laden pernah bersembunyi di kompleks ini, selain menyebutnya sebagai markas NII.

Tapi bagi kami, serangkaian kata di beberapa gapura itu menghadirkan inspirasi tentang kehidupan yang penuh toleransi dan damai. Kata-kata itu adalah ilham dari Allah. Dalam pikiran kami segera melintas kata (inspirasi) bahwa orang-orang di sini pembawa damai. Inspirasi itu membawa kami pada bunyi Firman Allah dalam Alkitab (Bibel): Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak (hamba) Allah.

Segera muncul sebuah keyakinan bahwa pondok pesantren ini bertujuan sangat mulia, pembawa damai. Tidak mudah menjadikan motto toleransi dan perdamaian ini hanya sebagai tameng menutupi wajah lain yang tidak toleran dan tidak damai. Sebelumnya, pernah kami dengar dari seorang kiyai pimpinan ormas Islam yang menduga Al-Zaytun punya agenda tersembunyi (hidden agenda). Walaupun tidak dijelaskan hidden agenda seperti apa.

Sebutir keraguan yang sempat bercokol dalam hati bahwa apa yang didesas-desuskan tentang Ponpes ini, mulai tersingkir. Apalagi, kami menganut prinsip mempercayai lebih dulu jauh lebih baik daripada mencurigai lebih dulu. Barangkali prinsip ini juga membuat kami tidak cocok menjadi polisi atau jaksa. Atau menjadi seorang jurnalis yang selalu mencurigai.

Hati pun makin tenteram setelah memasuki kompleks menuju wisma tamu Al-Ishlah yang cukup megah. Bangunan lima lantai ini berada di sebelah selatan Masjid Al-Hayat. Wisma seluas 7.600 m2 dengan 150 kamar tidur itu dilengkapi dengan fasilitas pendukung seperti coffee shop, meeting room, dan pendukung lainnya. Terasa suasana peradaban maju yang amat bersahabat dan damai, tidak ada kesan eksklusif (tertutup).

Suasana wisma tamu yang dibangun 1 Juli 1999 dan selesai 27 Oktober 2001 ini jauh lebih baik dari suasana hotel-hotel berbintang di Jakarta. Sementara sarananya sama dengan hotel berbintang, mulai dari lobi hotel, coffee shop, meeting room sampai restoran didisain sedemikian rupa sehingga sungguh menunjukkan kesan modern yang tertata apik. Petugas penerima tamu dan pelayan restoran pun kompak menggunakan seragam yang menyiratkan kesungguhan dan profesionalisme dalam melakukan tugasnya.

Suasana hati yang teduh dan bersahabat amat terasa, saat berpapasan dengan setiap orang dalam kompleks pendidikan terpadu ini. Tidak ada tampang sangar dan tatapan mata tajam beringas. Para santri pria (rizal) berpakaian rapih dilengkapi dasi bahkan jas, layaknya sekolah umum. Tidak ada yang pakai sarung. Begitu pula santri putri (nisa) berpakaian seragam rapih dan sopan dilengkapi kerudung penutup rambut yang cukup modis.

Pertama kali, kami disambut Uztad Abdul Halim, yang belakangan kami ketahui menyandang jabatan sebagai Sekretaris Yayasan Pesantren Indonesia. Rasanya, kami cepat akrab, seperti sudah lama berkenalan. Padahal, itulah pertama kali kami bertemu muka, apalagi bercakap-cakap. Penampilannya seperti eksekutif lembaga modern global. Pakai dasi dengan jaket hitam yang maskulin. Dia tidak pakai sorban dan berjanggut panjang. Bicaranya lugas, layaknya seorang eksekutif perusahaan multinasional.

Seraya beristerahat sejenak di restoran Wisma Al-Islah, minum teh tarik ciri khas Al-Zaytun ditemani Aztad Abdul Halim, kami menjelaskan maksud kehadiran kami untuk wawancara dengan Syaykh Panji Gumilang. Abdul Halim juga menjelaskan secara singkat tentang keberadaan Al-Zaytun. Lalu, kami ditawarkan untuk meninjau lebih dahulu ‘setiap sudut’ Ma’had Al-Zaytun, sebelum wawancara.

Tentu saja kami sangat senang bisa meninjau secara langsung semua sudut lembaga pendidikan ini. Dalam hati terinspirasi, lembaga pendidikan ini sangat terbuka. Terbuka (transparan) dalam kedisiplinan tinggi. Tentu saja, setiap kali kita masuk ke rumah orang haruslah sepengetahuan dan dipersilahkan lebih dahulu oleh pemilik rumah. Registrasi tamu di pintu masuk tadi suatu bentuk kesopanan tamu yang layak dipatuhi seorang tamu yang beradab. Sesudah itu, kita diperlakukan sebagai sahabat yang seperti berada di rumah sendiri.

Semua sudut kami tinjau. Mulai dari ruang kelas, basement Masjid Rahmatan Lil Alamin yang masih dalam tahap pembangunan, laboratorium, peternakan sampai asrama putri pun kami masuki. Basement Masjid Rahmatan Lil Alamin itu pernah diberitakan orang sebagai bunker, ruang persembunyian bawah tanah. “Mana bunkernya?” kami bertanya. Abdul Halim menjelaskan: “Iya ini, basement yang nanti sebagian akan digunakan sebagai ruang kantor.”

Setelah itu, pada malam harinya, sekitar pukul 20.00 sampai 23.30 WIB, kami wawancara dengan Syaykh Panji Gumilang. Lengkaplah sudah penjelasan yang kami peroleh perihal keberadaan Al-Zaytun. Hampir 14 jam secara marathon dan intensif, mulai pukul 10.00 pagi sampai 23.30, kami meninjau dan menerima penjelasan. Rasanya keingintahuan kami terlayani dengan terbuka dan sempurna.

Sungguh, di situ kami menyaksikan sebuah wujud nyata konsep pendidikan terpadu yang bermotto: Pusat Pendidikan dan Pengembangan Budaya Toleransi dan Perdamaian. Kampus ini disetting menjadi laboratorium toleransi dan perdamaian. Tidak hanya dalam konsep teori dan penelitian, melainkan benar-benar mengimplementasikan dan memproduksi budaya toleransi dan perdamaian tersebut dalam gaya hidup keseharian.

Selain itu, kampus ini juga benar-benar menerapkan konsep pendidikan terpadu secara mandiri yang menempatkan pendidikan sebagai gula dan ekonomi jadi semutnya.
Setelah menyaksikannya, tidak mudah bagi kami menyampaikan kata yang bisa menggambarkan keberadaan pondok pesantren ini. Sungguh luar biasa! Tak berlebihan bila kami menyebutnya sebagai Ponpes (Kampus) Peradaban Berskala Dunia. Mengenai tokoh pendirinya, beliau adalah Pelopor Pendidikan Terpadu dan Pembawa Damai.

Namun, penyajian kami, pastilah masih sangat jauh dari sempurna, untuk menggambarkan apa, siapa dan bagaimana Ma’had Al-Zaytun dan tokoh pendiri dan pemimpinnya itu. Setelah kami memublikasikannya di website TokohIndonesia.Com (Ensiklopedi Tokoh Indonesia), kami pun menerbitkan di Majalah Tokoh Indonesia Edisi 8.

Dan, setelah lebih empat tahun, serta sesudah beberapa kali berkunjung ke Al-Zaytun, tatkala kami membaca ulang apa yang kami tulis di Majalah Tokoh Indonesia Edisi 8 tersebut, sungguh cukup memberi gambaran singkat secara menyeluruh tentang keberadaan Al-Zaytun. Inilah Al-Zaytun yang sesungguhnya (setidaknya dalam pandangan kami), tidak ada yang tersembunyi. Kami menyadari kata kuncinya adalah karena di situ kami menemukan inspirasi (ilham secara intuisi ataupun atas petunjuk Illahi) yang mencerahkan.

Sudah lebih empat tahun kami mengenal dan berulangkali mengunjungi serta berdialog dengan Syaykh dan para eksponennya, juga membaca bulletin harian internalnya, Al-Zaytun yang kami kenal pada awal, itu pulalah yang kami kenal hari ini. Al-Zaytun yang mengajarkan disiplin kuat, mengajarkan kebebasan berpikir, toleransi (interdependensi), demokrasi dan perdamaian serta cinta Republik Indonesia. Memasuki area Al-Zaytun, kita benar-benar masuk dalam zona perdamaian dan demokrasi (zone of peace and democracy) dan go home! (Bersambung Bagian Dua) ►ti- Majalah Berita Indonesia Edisi 57 Tahun III - 20 Mei 2008

*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)