| |
C © updated 11122004 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
►e-ti/kompas |
|
| |
Nama:
Profesor Dott Sampurno
Lahir:
Semarang, 2 Desember 1934
Isteri:
Dra Sri Wuryani (menikah tahun 1964)
Anak:
Vedy, Niya, dan Ista.
Ayah:
M Koetojo
Ibu:
Ny Moendijah
Pendidikan:
= Jurusan Geologi FIPIA Universitas Indonesia (UI), kini ITB, tahun
1954
= Dottore in scienze geologiche dari Facolta di Scienae Universitas Degli
Studi, Padova, Italia dengan tesis berjudul Studio Petrografico della zona
di Contatto di Val San Valentino, Adamello.
Karier:
= Dosen di ITB sejak 1 September 1959, hingga menjadi seorang
profesor, pensiun 18 Desember 2004
= Dosendi Institut Teknologi Nasional (Itenas) Bandung
= Sosen STT Nasional Yogyakarta
= Dosen Universitas Pakuan (Unpak) Bogor
= Dosen Universitas Katolik Parahyangan (Unpar) Bandung
Kegiatan Lain:
= Tenaga ahli di Badan Perencana Pembangunan Daerah (Bappeda) Jawa
Barat, selama 37 tahun sejak tahun 1963
= Aktif dalam Kelompok Penelitian dan Pengembangan Lingkungan Hidup dan
Pariwisata (KPPLH dan KPPPar-ITB)
= Aktif menulis di berbagai media
Penghargaan:
Piagam penghargaan dan medali dari Menteri P dan K pada 22 Februari
1983 atas jasanya dalam pemugaran Candi Borobudur
Sumber:
Kompas Rabu, 05 Januari 2005, Her Suganda, Anggota Forum Wartawan
dan Penulis Jawa Barat/FWJB
|
|
| |
|
|
|
|
Dott Sampurno
Pionir Geologi Teknik
Dia salah seorang pionir geologi teknik dan lingkungan di Indonesia.
Bidang keilmuan yang berkait erat dengan teknik sipil, bencana alam dan
lingkungan. Bumi, kata guru besar Institut Teknologi Bandung (ITB), ini
ibarat remasan kerupuk di atas bubur panas. Di Bumi ini terdapat lebih
kurang 16 keping lempeng. Pergeseran satu lempeng itu, hari Minggu, 26
Desember 2004, mengakibatkan gempa yang disusul tsunami dan merenggut
ratusan ribu jiwa manusia, di antaranya di Aceh dan Sumut.
Jika diibaratkan bumi ini sebesar bola sepak, maka tanah tempat manusia
menempel di atasnya ibarat kulit yang tebalnya hanya 0,7 milimeter. Kulit
yang tipis itu mengapung-apung di atas massa cair kental yang pijar
bersuhu tinggi. Kulit bumi yang tipis terus bergerak, bergeser, saling
mendesak, mengerut dan terkoyak atau sobek di sana-sini sehingga pecah
berkeping-keping. Satu di antara pergeseran lempeng tersebut terjadi hari
Minggu, 26 Desember 2004, mengakibatkan gempa yang disusul tsunami.
Pria kelahiran Semarang, 2 Desember 1934, dari keluarga sederhana pasangan
M Koetojo dan Ny Moendijah, ini mengaku sudah tertarik dengan ilmu
kebumian sejak SMP dan SMA. Kemudian, ia memasuki Jurusan Geologi FIPIA
Universitas Indonesia (UI), kini Institut Teknologi Bandung (ITB), tahun
1954. Kala itu, tempat kuliahnya bekas bedeng asrama tentara, berupa
bangunan setengah bata dan setengah bilik. Ruang baca bersatu dengan ruang
tata usaha sehingga selalu ramai.
Dia menyenangi bidang geologi teknik karena hasil pekerjaannya bisa cepat
dievaluasi dan banyak berhubungan dengan orang banyak. Tahun 1959-1962, ia
melanjutkan studi geologi di Facolta di Scienae Universitas Degli Studi,
Padova, Italia. Ia meraih gelar dottore in scienze geologiche dengan tesis
berjudul Studio Petrografico della zona di Contatto di Val San Valentino,
Adamello.
Saat studi di Italia itu, Sampurno merasa kagum melihat karya Prof Dr Dal
Piaz yang mengolah geologi jalan raya Bologna-Florence di Italia. Sehingga
minatnya tentang geologi semakin tinggi.
Sekembali dari Italia, dia bertekad kuat untuk mengaplikasikan ilmunya di
Indonesia. Pertama kali, Sampurno mengaplikasikan geologi teknik dalam
pemugaran Candi Borobudur. Saat itu, ada tiga hal yang menjadi
perhatiannya, yakni keadaan tanah, bahan baku batuan dan penyediaan air.
Berkat pengabdiannya dalam pemugaran Candi Borobudur, ia pun menerima
piagam penghargaan dan medali dari Menteri P dan K pada 22 Februari 1983.
Saat aktif dalam pemugaran Candi Borobudur itu pula, ia berkenalan dengan
ahli purbakala, Dra Sri Wuryani yang kemudian menikahinya tahun 1964.
Pernikahan ini dikaruniai tiga anak, yaitu Vedy, Niya, dan Ista.
Dia dan keluarganya hidup bersahaja. Kebersahajaan itu tercermin dari
kegemarannya berbaju batik atau lurik dengan alas kaki sepatu sandal,
serta pilihan hidupnya menjadi dosen. Penggemar olahraga renang dan
menyapu lantai atau halaman rumah, ini memulai kariernya sebagai pengajar
di ITB sejak 1 September 1959, hingga menjadi seorang profesor. Setelah 45
tahun mengabdi, dia mengaku gaji pokok seorang profesor hanya Rp
1.447.700.
Maka, selain mengajar di ITB, ia pun mengajar di berbagai perguruan tinggi
lainnya, seperti di Institut Teknologi Nasional (Itenas) Bandung, STT
Nasional Yogyakarta, Universitas Pakuan (Unpak) Bogor dan Universitas
Katolik Parahyangan (Unpar) Bandung.
Di kalangan mahasiswanya, ia dikenal sebagai dosen yang disiplin dan "galak".
Padahal, kalau di rumah, menurut pengakuan Niya, anak keduanya, tidak
pernah marah. Di mata anak-anaknya, sang ayah terkesan paling senang kalau
diajak makan di warung tenda. Jika ada pengamen, ia biasanya meminta dua
sampai tiga lagu. Setelah itu pengamennya diajak makan bareng. Akan tetapi,
kalau pengamennya waria, malah diminta cepat-cepat pergi.
Gaya dan semangat hidupnya bersahaja, hangat dan energik walau usianya
sudah mencapai 70 tahun. Dalam usia 60 tahun, ia masih mampu mendaki
puncak Cartenz di Pegunungan Jayawijaya, Irian Jaya. Seperti tidak
mengenal lelah, dia selalu bersemangat menanamkan kepedulian masyarakat
terhadap alam melalui ilmu pengetahuan geologi.
Sejak tahun 1970, ia turut menerapkan ilmu geologi dalam berbagai bidang
pembangunan. Seperti geologi untuk bendungan, jalan raya, longsoran,
pengadaan air bersih, pengembangan wilayah dan kota, serta lokasi
pembuangan sampah padat. Selama 37 tahun sejak tahun 1963, dia
mengaplikasikan keahliannya di bidang geologi teknik, sebagai tenaga ahli
di Badan Perencana Pembangunan Daerah (Bappeda) Jawa Barat.
Dia juga aktif dalam Kelompok Penelitian dan Pengembangan Lingkungan Hidup
dan Pariwisata (KPPLH dan KPPPar-ITB). Hasil penelitian dan pemikirannya
tentang geologi teknik dan lingkungan tersebut tersebar di berbagai media.
Dia memang punya kemampuan menulis secara populer. Di berbagai media,
Sampurno menulis dengan bahasa yang sederhana, mudah dan enak dicerna oleh
pembaca awam sekalipun, sehingga ilmu pengetahuan geologi itu lebih
membumi.
Dia pun sangat beruntung memiliki pasangan hidup, isteri, yang ahli
purbakala. Secara tertib, isterinya selalu menyimpan tulisan-tulisan
tersebut, baik berupa hasil penelitian maupun kliping surat kabar dan
foto-fotonya. Kemudian oleh anak-anaknya, kumpulan tulisan itu dibukukan.
Telah terbit dalam dua jilid, yakni Kilas Balik Pelangi Kehidupan Sampurno
dan Jejak Langkah Geologi. Kedua buku itu memperlihatkan kecintaannya
terhadap geologi lingkungan. Diluncurkan pada pelepasannya sebagai guru
besar ITB, 18 Desember 2004, setelah hampir setengah abad merintis
aktivitas pemikirannya. Namun, sebagai guru, dia mengaku, tak mengenal
pensiun. Menurutnya, pensiun sebagai guru besar di ITB, merupakan awal
untuk melanjutkan perjalanannya di tempat lain. ►e-ti/mlp
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia) |
|