| |
C © updated 12082008 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/kompas |
|
| |
Biodata
Nama:
Eko Yuli Irawan
Lahir:
Lampung, 24 Juli 1989
Ayah:
Saman
Ibu:
Wastiah
Saudara:
- Angga Romansyah (Adik)
- Inge Trimelani (Adik)
Prestasi:
- Medali perunggu Olimpiade Beijing 2008, kelas 56 Kg, dengan total
angkatan 288 Kg.
- Medali emas PON VXII di Kaltim, 2008
- Medali perak kejuaraan Asia di Kanazawa, Jepang, di kelas 62 Kg.
- Medali emas Sea Games di Thailand, 2007
- Medali emas dan lifter terbaik kejuaraan dunia yunior di Praha,
Republik Ceko, 2007
- Dua medali perunggu kejuaraan dunia 2007 di Chiang Mai, Thailand, di
kelas 56 Kg.
- Peringkat 8 kejuaraan dunia tahun 2006 di Santo Domingo, Republik
Dominika, kelas 56 Kg. dengan total angkatan 266 Kg. |
|
| |
|
|
|
|
| EKO IRAWAN HOME |
|
|
 |
Eko Yuli Irawan
Perunggu Olimpiade Beijing
Atlet angkat besi Indonesia, ini meraih medali perunggu Olimpiade
Beijing 2008 (10/8/2008) di kelas 56 kg dengan total angkatan 288 kg.
Dia atlet pertama Indonesia yang meraih medali di ajang Olimpiade
Beijing 2008. Sang Juara kelahiran Lampung, 24 Juli 1989, ini telah
meraih beberapa medali di ajang nasional dan internasional.
Di kejuaraan nasional, Si Penggembala Kambing ini meraih medali emas PON
VXII di Kaltim, 2008. Di ajang internasional pada 2007 juga meraih
medali emas sekaligus sebagai lifter terbaik kejuaraan dunia yunior di
Praha, Republik Ceko. Juga meraih medali perak kejuaraan Asia di
Kanazawa, Jepang, di kelas 62 Kg; Medali emas Sea Games di Thailand,
2007; Meraih dua buah medali perunggu kejuaraan dunia 2007 di Chiang
Mai, Thailand, di kelas 56 Kg; Peringkat 8 kejuaraan dunia tahun 2006 di
Santo Domingo, Republik Dominika, kelas 56 Kg. dengan total angkatan 266
Kg.
Atlet angkat besi (lifter) yang mengandalkan otot ini lahir dan
dibesarkan di keluarga miskin. Ayahnya, Saman, seorang pengayuh becak,
cah angon, sedangkan ibunya, Wastiah, berjualan sayur. Prestasi Eko yang
gemilang di arena angkat besi telah mengubah keadaan ekonomi keluarganya.
Dia telah meraih bonus ratusan juta rupiah. Dia antara lain telah
membangun rumah baru, membeli tanah dan sawah untuk ayahnya, sehingga
tak perlu lagi mengayuh becak. Ayahnya, Saman, sudah bertani, tidak lagi
mengayuh becak. Sedangkan ibundanya, Wastiah, sudah berjualan sayur di
kios yang sederhana, tidak lagi hanya di lapak.
Eko sendiri sebelumnya tak pernah bercita-cita jadi atlet angkat besi.
Ia malah pernah bercita-cita jadi pemain sepak bola. Ia mau ikut sekolah
sepak bola (SSB), tetapi tidak jadi karena harus bayar. “Sumbangan
pembinaan pendidikan (SPP) sekolah saja sering nunggak lama, kok ini
malah mau ikut SSB yang harus membayar,” kenangnya kepada pers, sambil
tertawa, Senin (11/8) di halaman Beijing University of Aeronautics &
Astronautics, Beijing, China.
Kiprahnya di cabang lifter ini bermula tahun 2000, tidak sengaja datang
ke sasana latihan angkat besi asuhan Yon Haryono di Metro, Lampung. Kala
itu ia masih duduk di bangku sekolah dasar. Selepas sekolah pagi,
sorenya menggembalakan kambing (milik orang lain), sambil bermain
bersama teman-temannya. Suatu hari, ia bersama teman sepermainannya, ia
iseng masuk ke dalam sasana untuk melihat dari dekat orang berlatih
mengangkat barbel. Mereka pun diusir keluar.
Setelah itu, rasa ingin tahu membuatnya makin ingin sering melihat orang
berlatih angkat besi. Sampai akhirnya, awal 2001, Eko bersama
teman-temannya memberanikan diri ikut latihan angkat besi di sasana
tersebut. Mulai dari latihan memakai kayu untuk belajar teknik. Setelah
menguasai teknik, barulah dilatih memakai barbel yang berat.
Mulailah terasa latihannya sangat berat. Teman-temannya mulai satu per
satu tidak datang lagi. Eko sendiri pun terkadang berniat untuk tidak
datang. ”Akibat latihannya berat banget, waktu itu saya juga berpikiran
datang, enggak, datang, enggak,” kenang Eko, kepada pers.
Tapi Eko akhirnya membulatkan tekad untuk bisa menjadi lifter andal. Dia
makin giat latihan. Setiap pulang sekolah (pagi), sore hari berlatih
angkat besi. Ia pun mohon izin pada orang tuanya untuk tidak menggembala
kambing lagi. Semangatnya berlatih semakin tinggi, tatkala mulai
mendapat honor Rp 7.000 per minggu. Honor itu, sangat berarti bagi diri
dan keluarganya.
Dengan kegigihannya berlatih, dalam waktu kurang dari satu tahun, Eko
sudah mengikuti Kejuaraan Nasional Remaja di Indramayu, Jawa Barat.
Hasilnya mengejutkan, Eko meraih emas. Kala itu, keluguannya
menyembulkan tanya tanya di benaknya: “Orang bilang bahwa meraih emas
bisa dapat uang. Lho, ini kok hanya dapat medali emas?”
Tapi suntikan semangat dari pelatih membuatnya berpikir lebih jauh ke
depan. Ia pun ingin ikut tim nasional ke SEA Games 2005. Tapi, Eko gagal
lolos seleksi nasional. Dua tahun kemudian, Eko berhasil mewujudkan
mimpinya berlaga di SEA Games 2007 bahkan meraih medali emas.
Pikiran Eko pun makin terkonsentrasi untuk meraih juara di berbagai
ajang kejuaraan. Ia ingin menyebar keharuman nama bangsanya sebagai Sang
Juara. Ia giat dan rajin mengikuti jadwal ketat pemusatan latihan
nasional jauh dari keluarga di Lampung. Eko rutin berlatih setiap pagi
dan sore.
Rasa tanggung jawab dan kerja kerasnya membuahkan hasil gemilang yang
mengharumkan nama bangsa. Dia meraih perunggu pada Olimpiade Beijing
2008. Medali pertama buat Indonesia. Ia memang sudah diperkirakan bakal
meraih medali. Ia berangkat ke Beijing bersama empat lifter Indonesia
lainnya: Triyatno, Edi Kurniawan, Sandow Waldemar Nasution, serta lifter
putri Raema Lisa Rumbewas. Triyatno, juga menyusul meraih perunggu
Olimpiade Beijing, kelas 62 kg. Sebelumnya, tim angkat besi Indonesia
pernah memperoleh dua medali perak lewat angkatan lifter putri Raema
Lisa Rumbewas (Olimpiade 2000 dan 2004).
Eko berhasil dengan total angkatan 288 kilogram, memecahkan rekor dunia
yunior kelas 56 kilogram. Namun, tak sampai satu jam bertahan rekor Eko
dipecahkan lagi oleh lifter China, Long Qingguan, yang meraih emas
(total angkatan 292 kilogram).
Bagi Eko, Olimpiade Beijing 2008, merupakan penampilan terakhirnya di
kelas 56 kilogram. Sebab, ia ingin naik ke kelas 62 kilogram. Ia yakin,
dengan naik kelas, akan mampu meraih prestasi lebih baik.
Selain menekuni olah raga angkat besi, Eko juga memikirkan masa depan
selepas menamatkan SMA nanti. Ingin kuliah, tapi rasanya tidak punya
waktu karena waktunya sudah habis untuk berlatih. Ia pun bercita-cita
memiliki toko.
►ti/tsl
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
Indonesia Tambah Satu Medali Perunggu
Selasa, 12 Agustus 2008 | 00:11 WIB
Beijing, Kompas - Indonesia berhasil menambah satu medali perunggu di
ajang Olimpiade Beijing, China, Senin (11/8). Medali disumbangkan atlet
angkat besi Triyatno yang turun di nomor 62 kilogram putra.
Keberhasilan Triyatno mengikuti sukses rekannya, Eko Yuli Irawan, yang
meraih perunggu sehari sebelumnya dari nomor 56 kilogram putra.
Triyatno berhak mendapat perunggu setelah mampu mencetak total angkatan
298 kilogram. Total angkatannya berada di bawah lifter China, Zhang
Xiangxiang, yang mengangkat 319 kilogram dan atlet Kolombia, Diego
Salazar, seberat 305 kilogram.
Dengan tambahan perunggu tersebut, Indonesia kini bertengger di posisi
ke-30 bersama Brasil. Posisi pertama masih dikuasai China, yang meraih
sembilan medali emas, tiga perak, dan dua perunggu. Tempat kedua dan
ketiga ditempati Korea Selatan dan Amerika Serikat.
|
|