| |
C © updated 02012003 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/dnm |
|
| |
Nama:
Emirsyah Satar
Lahir:
Jakarta, 28 Juni 1959
Jabatan:
Direktur Utama PT Garuda Indonesia, 2005
Pendidikan:
S1 Fakultas Ekonomi Jurusan Akuntansi, Universitas Indonesia, 1985
Karir:
= Auditor PricewaterhouseCoopers di Jakarta, 1983.
= Asisten Vice President of Corporate Banking Group Citibank Jakarta, 1985
= General Manager Corporate Finance Division, Jan Darmadi Group, Jakarta,
1990-1994
= Presiden Direktur PT Niaga Factoring Corporation, Jakarta, Nopember 1994
– Januari 1996
= Managing Director (CEO) Niaga Finance Co. Ltd, Hong Kong, 1997
= Direktur Keuangan (CFO) PT Garuda Indonesia, 2003
= Wakil Direktur Utama PT Bank Danamon Indonesia Tbk, 2003-2005
= Direktur Utama PT Garuda Indonesia, 2005.
Alamat:
|
|
| |
|
|
|
|
| EMIRSYAH HOME |
|
|
 |
BIOGRAFI Emirsyah Satar
Dirut Garuda Indonesia
Wakil Direktur Utama PT Bank Danamon
Indonesia Tbk (2003-2005) dipercaya menjabat Direktur Utama PT Garuda
Indonesia. Lulusan Fakultas Ekonomi Jurusan Akuntansi,
Universitas Indonesia (1985), yang pernah menjabat Direktur Keuangan PT
Garuda Indonesia, itu menggantikan Indra Setiawan yang masa jabatannya
seyogianya berakhir 2003.
Emirsyah Satar, pria kelahiran Jakarta, 28 Juni 1959, ini memulai karir sebagai Auditor di
PricewaterhouseCoopers, Jakarta 1983. Dua tahun kemudian, bergabung dengan Citibank Jakarta sebagai Asisten
Vice President of Corporate Banking Group. Kemudian, dari 1990-1994
menjabat General Manager Corporate Finance Division Jan Darmadi Group
di Jakarta.
Pada Nopember 1994 – Januari 1996, dipercaya menduduki posisi Presiden
Direktur PT Niaga Factoring Corporation, Jakarta. Setahun kemudian,
menjadi Managing Director (CEO) Niaga Finance Co. Ltd, Hong Kong. Kemudian
menjabat Direktur Keuangan (CFO) di PT Garuda Indonesia sebelum bergabung
dengan Bank Danamon sebagai Wakil Direktur Utama (2003-2005).
Direksi dan Komisaris
Menteri Negara BUMN Sugiharto saat sedang rapat dengan Wakil Presiden
Muhammad Jusuf Kalla, Rabu (16/3/2005) malam membenarkan telah menetapkan
susunan komisaris dan direksi PT Garuda Indonesia yang baru.
Emirsyah
Satar, ditunjuk sebagai direktur utama perusahaan penerbangan pembawa bendera
Indonesia itu. Dia didampingi Soenarko Kuntjoro (Dirut Gapura Angkasa)
sebagai direktur teknik untuk menggantikan Richard BS dan Agus Priyanto
(General manager Garuda di Frankfurt, Jerman) sebagai direktur niaga
menggantikan Bahrul Hakim. Sedangkan direktur operasi tetap dijabat Rudi
A. Hardono.
Sementara susunan Dewan Komisaris dipimpin oleh Abdulgani,
mantan Direktur Utama (Dirut) Garuda sebelum Indra Setiawan yang pernah membawa perusahaan BUMN
ini mendapatkan penghargaan dari bandara internasional di Belanda.
Dia menggantikan Marsilam Simanjuntak, yang mengundurkan diri tahun lalu
(2004).
Komisaris lainnya adalah Gunarni Soeworo, mantan Dirut Bank Niaga dan juga
Ketua Perbanas sebagai komisaris independen; M Soeparno, mantan Dirut
Garuda; serta Slamet Riyanto dan Aries Mufti.
Menurut Sugiharto, revitalisasi di tubuh Garuda diperlukan karena masa
jabatan direksi lama sudah demisioner sejak tahun 2003. Akibatnya,
efektivitas kerja manajemen menurun dan Garuda Indonesia merugi cukup
signifikan.
"Kinerja operasi Garuda menurun terlihat dari on time perfomance
Garuda belum memuaskan," ungkap keterangan pers kementerian BUMN yang
diterima 16/3/2005.
Dijelaskan, kementerian BUMN telah melakukan uji kepatutan dan kelayakan
dengan menggunakan konsultan independen. Pengujian tersebut dilakukan
secara bertahap dimulai dengan uji kompetensi, kelayakan psikologis dan
kelayakan moral.
Guna menjaga kesinambungan manajemen dan mengembangkan sumber daya
internal, direksi baru Garuda sebagian besar berasal dari dalam BUMN
penerbangan itu sendiri.
Keterangan pers tertulis itu juga menyebutkan, Menteri BUMN berharap agar
komisaris dan direksi Garuda yang baru dapat menggunakan kompetensi dan
pengalamannya untuk memimpin program revitalisasi Garuda.
Menteri BUMN berharap dalam waktu singkat komisaris dan direksi Garuda
yang baru dapat melakukan due dilligence (uji tuntas) atas kondisi Garuda
saat ini.
Pada kesempatan rapat dengar pendapat dengan Komisi VI DPR Februari 2005
Direktur Utama (Dirut) Garuda Indra Setiawan mengungkapkan, sisa saldo
perusahaan penerbangan nasional itu per Desember 2004 sebesar US$123 juta.
Namun, jumlah itu belum termasuk kewajiban pembayaran operasional
penerbangan haji yang harus dilaksanakan Garuda pada Januari-Maret 2005.
Bila Garuda harus menyelesaikan kewajiban atas biaya tersebut yang
diperkirakan mencapai US$80 juta hingga US$90 juta, ditambah tanggungan
kewajiban lain yang saat ini mencapai US50 juta, cash flow Garuda pada
April 2005 menjadi negatif US$17 juta. Kondisi ini akan menyulitkan Garuda
untuk mengembangkan bisnisnya. ►e-ti/tsl
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|
|