| |
C © updated 22102004 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
|
|
| |
►e-ti |
|
| |
Nama:
Herry Tjahjono
Pendidikan:
Fakultas Psikologi, UGM
Profesi:
-
Corp HR Director & Corp Culture Therapist, Jakarta - Konsultan Manajemen
-
Penulis
Buku:
- Hidup Tanpa Judul
- Menjadi Pendekar di Atas Segala Pendekar
Dia eksekutif di bidang sumber daya manusia di sebuah grup perusahaan di
Jakarta. Ia juga menjabat sebagai President "X-Care Consultainment".
Menulis baginya merupakan bentuk pelayanan terhadap kehidupan itu sendiri
dan juga merupakan sebuah "proses membangun hidup sebagai jembatan menuju
orang-orang lain". Secara formal, ia adalah alumnus Fakultas Psikologi,
UGM, dan pendidikan informalnya dari "universitas kehidupan" telah
mengantarnya ke dimensi kehidupan seperti yang dijalaninya.
|
|
| |
|
|
|
|
== 1
2
3 4
5 6 7 8 9 10
== Oleh Herry Tjahjono
Psikologi Harapan bagi Presiden Baru
Kita segera mempunyai presiden baru. Segunung harapan digantungkan pada
pundaknya, meski kita tahu hal itu kurang bijaksana, mengingat presiden
baru itu bukan manusia setengah dewa yang mampu sekejap mata menyelesaikan
persoalan besar bangsa.
Harapan akan sebuah perubahan dan perbaikan masa depan, kini menggelayut
di pelupuk mata ratusan juta rakyat, masih jadi mimpi indah yang
senantiasa membayang kehidupan keseharian.
Harapan, dan sekali lagi harapan! Itulah modal sosial (social capital)
bangsa saat ini di tengah momen penting presiden baru yang pertama kali
dipilih secara langsung-berdaulat oleh kita semua sebagai rakyat jelata.
Dinamika itulah yang melahirkan semacam "psikologi harapan" spesifik, yang
wajib dielaborasi bersama agar "harapan" itu benar-benar menjadi modal
sosial yang produktif, bukan sebaliknya, menjadi kontraproduktif.
SESUAI dengan konteks pembicaraan, ada tiga dinamika psikologis tentang
harapan. Pertama, efek Pygmalion dari harapan! Berawal dari sebuah kisah,
seorang pangeran Yunani, Pygmalion, sedang mengukir patung wanita ideal.
Celakanya, sang pangeran jatuh cinta pada patungnya. Konon, Aphrodite,
sang Dewi Cinta, jatuh iba dan meniupkan napas kehidupan pada patung itu.
Akhirnya Pygmalion berhasil memiliki wanita idealnya.
Selanjutnya, kisah itu mengejahwantah sebagai konsep transformatif dalam
drama George Bernard Shaw berjudul Pygmalion, bercerita tentang gadis desa
penjual bunga yang miskin-Eliza Doolitle-yang di ujung cerita "berubah
diri" menjadi seorang "Putri". Sedangkan dalam film musikal My Fair Lady,
Eliza merefleksikan konsep transformatif dalam kalimat, "Yang membedakan
gadis penjual bunga dengan seorang Putri, bukan terletak pada perilakunya,
tetapi pada ’bagaimana’ dia diperlakukan, pada ’harapan’ apa yang
digantungkan kepadanya. Kepada Profesor Higgins, saya akan berlaku sebagai
gadis miskin penjual bunga sebab dia memperlakukan dan mengharapkan saya
seperti itu. Tetapi kepada Anda, Kolonel Pickering, saya percaya bisa
menjadi seorang Putri sebab Anda memperlakukan dan mengharapkan saya
sebagai seorang Putri!"
Itulah efek Pygmalion, artinya; sikap atau harapan kita terhadap seseorang,
mampu menjadi kekuatan yang memengaruhi dan mengubah serta membentuk orang
itu. Menjadi semacam self fulfilling prophecy, harapan yang terpenuhi.
Dalam berbagai teori kepemimpinan, psikologi harapan berbasiskan efek
Pygmalion ini sering mengambil peran vital. Sebagai rakyat kita adalah "pemimpin
tertinggi" negara dan bangsa, terbukti secara berdaulat memilih dan
menentukan langsung presiden yang akan mengembang tugas mahabesar dari
kita.
Maka, jika kita ingin presiden baru itu mampu menjadi seorang "Putri",
bukan "gadis penjual bunga", itu tergantung sikap dan harapan kita
terhadapnya. Diperlukan ketulusan hati untuk memberi kesempatan
proporsional, sikap proaktif secara moril terhadap presiden baru. Itu
relevan dengan konsep Abraham Maslow. Kita, rakyat, adalah anggota
organisasi mahabesar Indonesia.
Sekali kita telah memilih sang presiden, menurut Maslow, kita harus
mengeliminasi seminim mungkin sikap antagonistik terhadap presiden baru
itu. Tidak seratus persen rakyat secara bulat memilih sang presiden, maka
bagi yang tidak memilihnya, sikap antagonistik ini terlebih lagi wajib
dieliminasi.
Ini juga berlaku bagi para wakil kita di parlemen. Perlu ditekankan kepada
mereka, sikap antagonistik itu berbeda dengan sikap kritis bernuansakan
crosschecking dan balancing yang diperlukan untuk mengontrol presiden.
Sikap antagonistik bernuansakan prasangka, politicking, trik-intrik,
mencari-cari kesalahan dan kelemahan serta bertendensi "menjatuhkan". Jadi,
sebuah psikologi harapan yang jauh dari nuansa antagonistiklah yang akan
memberi efek Pygmalion dahsyat bagi presiden baru agar dia mampu
berperilaku dan berkinerja luarbiasa. Bagi sang presiden, sekali rakyat
dan DPR memberi harapan yang penuh efek Pygmalion, dia wajib menjadi "Putri",
bukan "penjual bunga" yang membuat negeri ini terus kere dan penuh
ketidakadilan. Output dan out come kerja bernuansakan self fulfilling
prophecy, menjadi kewajiban moral.
KEDUA, efek relativitas harapan! Psikologi harapan ini terkait tingkat
ambang batas harapan yang dilekatkan kepada seseorang, bersifat relatif
antara variabel "harapan" dan "kenyataan". Untuk mempermudah dan
mempersingkat, kita ambil contoh kaitannya dengan mekanisme pasar,
khususnya tentang "turun-naik" rupiah atas dollar AS. Misalnya, pada zaman
Habibie, rupiah sempat menguat di sekitar angka Rp 7.000/dollar AS. Pada
akhir era Abdurrahman Wahid (Gus Dur), rupiah anjlok pada angka Rp
11.000-an/dollar AS. Dalam konteks ini, kita tak bisa gegabah
menjustifikasi kemampuan dan kinerja Gus Dur jauh di bawah Habibie.
Ketika Habibie menjadi presiden, "harapan" masyarakat dan pasar
terhadapnya tidak terlalu tinggi (malah cenderung underestimate). Tingkat
pengharapan rendah. Tetapi kenyataannya, kinerja Habibie "tak terlalu
buruk", maka rupiah menguat signifikan. Artinya, ambang batas harapan
(threshold) terhadap Habibie awalnya demikian rendah, lalu dia menunjukkan
kinerja "sedikit" saja di atas ambang itu, penguatan" rupiah jadi
mengejutkan. Sebaliknya, terjadi pada Gus Dur. Ambang harapan terhadap
dirinya di awal terlalu tinggi, overestimate. Dan, ketika kinerja
pemerintahannya "sedikit saja" di bawah ambang, rupiah terperosok.
Presiden baru wajib memerhatikan dan menguasai efek relativitas harapan
rakyat terhadap dirinya. Dia layak mengobservasi dan memotret secara
serius threshold harapan rakyat terhadap dirinya, yang secara sepintas
cukup tinggi. Maka, dia wajib mengonsolidasi diri dan jajarannya, dan "bermain"
(baca: berkinerja) paling tidak selalu "sedikit" di atas ambang batas
harapan rakyat. Jangan menyepelekan hal ini karena telah terpilih lalu
lengah dan kurang memerhatikan secara konsisten ambang batas harapan
rakyat terhadap dirinya.
KETIGA, efek sudut pandang harapan! Sudut pandang harapan dalam konteks
kepemimpinan (baru) negeri kita berhubungan dengan praksis kepemimpinan
selama puluhan tahun. Bahwa pemimpin adalah "tuan", pemilik negeri, dan
rakyat adalah batur, pelayan. Akibatnya, "harapan" yang dimanifestasikan
dan dikejar adalah "harapan" sang pemimpin (elitis), bukan "harapan"
rakyat. Jebakan paradigma harapan kepemimpinan semacam inilah yang membuat
"buah kepemimpinan" republik kita selama puluhan tahun terasa "asam dan
pahit" bagi rakyat.
Paradigma itu harus diubah radikal oleh presiden baru. Presiden bukan tuan,
dia adalah pelayan. Tuan adalah rakyat. Maka, "harapan" yang harus
dimanifestasikan adalah harapan sang tuan (rakyat). Dan, yang perlu
diintip adalah (psikologi) harapan dari sudut pandang rakyat, bukan
sebaliknya. Secara metodologis, konsep "kepemimpinan akar rumput" dari
Mike Abrashoff (penulis buku It’s Your Ship; Management Techniques from
the Best Damn Ship in the Navy) layak dijadikan acuan. Konsep kepemimpinan
yang berangkat dari "sudut pandang harapan" akar rumput, bukan sebaliknya.
Apa yang diajarkan Mike Abrashoff, yang sukses memimpin USS Benfold di
usia 36 tahun, secara adaptatif kira-kira berbunyi, "The most important
thing that a captain (president) can do is to see the ship (organization,
Indonesia) through the eyes of the crew (people)". Inilah psikologi
harapan terakhir yang mesti dipahami presiden baru.
Semoga urun-rembuk tentang ketiga psikologi harapan itu memberi bekal guna
menakhodai kapal besar Indonesia menuju "pelabuhan harapan" rakyat
Indonesia secara keseluruhan. Selamat datang presiden, selamat bekerja! ►Kompas
Jumat, 22 September 2004
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
== 1
2
3 4
5 6 7 8 9 10
== |
|