| |
C © updated 05062008 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/rpr |
|
| |
BIODATA
Nama:
Mangihut Mangaradja Hezekiel Manullang
Nama Panggilan:
Tuan Manullang
Lahir:
Tarutung, 20 Desember 1887
Meninggal:
Jakarta, 20 April 1979 (dimakamkan di Tarutung)
Ayah:
Singal Daniel Manullang
Ibu:
Chaterine Aratua boru Sihite
Isteri:
Boru Sihite
Anak:
5 orang putra, 4 orang putrid
Pendidikan:
- Sekolah Raja di Narumonda, Porsea, Tapanuli Utara
- Senior Cambridge School, Singapura, 1907- 1910
Karir:
- Pendiri dan penerbit surat kabar Binsar Sinondang Batak (BSB),
1906
- Guru Sekolah Methodist, 1910
- Pendiri organisasi social politik Hatopan Kristen Batak (HKB)
- Pendiri dan Pemimpin Redaksi surat kabar Soara Batak (1919-1930)
- Memprakarsai Persatuan Tapanuli (1921) dan Persatuan Sumatera (1922)
- Dipenjara di Cipinang 1922-1924 akibat tulisannya menentang penjajah
Belanda
- Menerbitkan koran Persamaan, 1924 yang kemudian diubah namanya menjadi
Pertjatoeran di Sibolga
- Melaksanakan Kongres Persatuan Tapanuli, 17 Februari 1924
- Bersama rekan-rekannya mendirikan Huria Christen Batak (HChB) sebagai
gereja yang berdiri sendiri, 1 Mei 1927 - HChB berubah menjadi HKI (Huria
Kristen Indonesia), 1950
- Kepala Penerangan Tapanuli, sampai Proklamasi Kemerdekaan
- Menjadi pendeta setelah lebih dulu mengikuti pendidikan kependetaan,
pada usia 52 tahun
- Pensiun penuh dengan pangkat Bupati pada usia 70 tahun
Penghargaan:
Pemerintah RI pada tanggal 2 Oktober 1967 menganugerahi
penghargaan sebagai Pahlawan Perintis Kemerdekaan
|
|
| |
|
|
|
|
| BERITA |
|
|
 |
RESENSI:
01
02 ==
Resensi Buku Tuan Manullang (02)
Pdt Langsung Maruli Sitorus:
Tuan Manullang Malayarkan Perahu
Pendeta Mangaradja Hezekiel Manullang telah membantu melayarkan suatu
perahu, yang didalamnya Batak dan Indonesia menyatu, untuk mengarungi
dunia menuju dunia yang baru. Itu perahu, yang dia turut memberi namanya
Huria Kristen Indonesia, suatu gereja yang baru, sampai akhir zaman akan
laju. Dari dia orang dapat tahu, berpolitik dan berpartai bukan suatu
hal yang tabu, pendeta pun bisa menjadi pelaku, asal demi bangsa,
kerukunan dan kemajemukan yang menyatu dan kalau perlu menjadi abdi
negara pembawa damai yang bahu-membahu.
Sekapur Sirih
Saya bukanlah seorang ahli bedah buku, dan saya tidak punya pisau bedah
yang cukup tajam untuk mengerjakan pembedahan itu. Tetapi karena
didorong oleh kecintaan terhadap tokoh yang dipaparkan, walaupun buku
itu tiba di tangan saya hari Sabtu Sore (18 Mei 2008) yang lalu, dan
Bapak Pendeta Dr.PTD Sihombing, MSc., Spd meminta saya melakukan
pembedahan ini (via telepon) setelah dihubungkan Pdt. Dr. Richard Daulay
(Sekum PGI), saya coba melakukannya. Kalau hasil pembedahan ini kurang
memuaskan, mohon disempurnakan oleh para ahli bedah lainnya.
Ucapan Terima Kasih
Saya, seorang pendeta HKI, yang pernah membaca “Sejarah Huria Kristen
Indonesia,” yang ditulis para tokoh HKI, mengetahui bahwa Bapak Pendeta
Mangaradja Hezekiel Manullang (gelar tuan Manullang) adalah pendahulu
kami para pendeta HKI, dan ladang Tuhan yang beliau perjuangkan
eksistensinya, yakni HKI, adalah tempat kami melayani sekarang dan kami
terpanggil untuk meneruskan pelayanan dan perjuangan beliau bersama
temannya pendeta HKI. Saya (baca: kami) selaku Pendeta HKI, sangat
berterimakasih kepada Bapak Dr.PDT Sihombing, MSc, SPd, yang menolong
kami mengenal lebih jelas lagi pendahulu kami yang tak kenal menyerah
itu, dengan selesainya Buku TUAN MANULLANG yang diluncurkan sekarang.
Kami menundukkan kepala dan malu melihat diri sendiri, karena menyadari
betapa kami ditemukan sebagai orang yang kurang melaksanakan seruan
apostel Kristus dalam Ibrani 13:7 Ingatlah akan pemimpin-pemimpin kamu,
yang telah menyampaikan firman Allah kepadamu. Perhatikanlah akhir hidup
mereka dan contohlah iman mereka. Dengan karya ini, kami ditolong untuk
mengingat beliau, dan menjadi tahu jelas akhir hidup beliau, dan kami
digerakkan mencontoh iman beliau. Dengan karya ini, cinta kami kepada
kepada beliau dibangkitkan lagi, kami dihardik lagi untuk meneruskan
perjuangan beliau, dan kami dipanggil untuk mewujud-nyatakan cita-cita
beliau (yang menurut kami sama sekali bukanlah utopis).
Kiranya karya besar ini (Buku TUAN MANULLANG) menjadi berkat dan membawa
berkat bagi HKI, bagi generasi penerusnya di HKI, dan bagi bangsa dan
negara kita. Saya (pendeta HKI sebagai generasi penerus pelayanan beliau),
meminta maaf kepada keluarga TUAN MANULLANG, bila kedapatan pernah
secara sengaja atau tidak sengaja menunjukkan sikap kurang hormat kepada
beliau, dan kepada usaha meneruskan karya-karya dan perjuangannya.
Suaranya yang menolak aneksasi tanah Batak, suaranya yang menolak
penyingkiran orang Batak di tanah leluhurnya, pasti tidak akan pernah
redup dan masih relevan hingga sekarang. Dengan semangat beliau, dapat
kita katakan sekarang, Tanah Batak adalah milik orang Batak. Tolak
segala bentuk pengambil-alihan tanah Batak oleh para kapitalis zaman
sekarang. Register-register yang dibuat Belanda dulu, bukan legitimasi
bagi pengusaha maupun pemerintah zaman sekarang untuk mencaplok tanah
Batak. Seruan beliau: ula tanom ulang digomak Ulando berlaku juga
sekarang. Para pemilik modal (kapitalis) tidak boleh menguasai
sejengkalpun tanah Batak, tetapi mereka harus membantu orang Batak
“mangula tanona” (mengolah tanahnya). Orang Batak tunduk pada pemerintah
yang mengayomi tanah Batak, dan bukan yang merampas atau menjajah tanah
Batak.
Bapak Pendeta Mangaradja Hezekiel Manullang telah membantu melayarkan
suatu perahu, yang didalamnya Batak dan Indonesia menyatu, untuk
mengarungi dunia menuju dunia yang baru. Itu perahu, yang dia turut
memberi namanya Huria Kristen Indonesia, suatu gereja yang baru, sampai
akhir zaman akan laju. Dari dia orang dapat tahu, berpolitik dan
berpartai bukan suatu hal yang tabu, pendeta pun bisa menjadi pelaku,
asal demi bangsa, kerukunan dan kemajemukan yang menyatu dan kalau perlu
menjadi abdi negara pembawa damai yang bahu-membahu.
Pengaguman
Saya tidak mengulang lagi pengaguman yang telah diberikan oleh para
komentator (dr.Ruyandi Hutasoit; Editor Pitono H), pemberi sambutan atau
pengantar dalam buku ini tentang karya ini (Prof. Dr. Dorodjatun
Kuntjoro-Jakti; Sabam Leo Batubara; Bupati Drs.Maddin Sihombing, Msi).
Sudah pantas juga sebenarnya Bapak Presiden RI atau sedikitnya Menteri
Sosial RI memberi apresiasi untuk karya ini dan kepada tokoh perintis
kemerdekaan itu.
Bagi saya yang masih “anak bawang” dalam menulis, karya ini merupakan
suatu karya besar, hasil kerja seseorang yang sangat cekatan menggunakan
waktu, sumber-sumber (tertulis atau oral). Sehingga dapat selesai sesuai
jadwal (dapat diluncurkan pada perayaan centenial (100 tahun)
Kebangkitan Nasional Indonesia). Editor buku ini pasti sudah bekerja
keras, sehingga formatnya ditata sebaik mungkin, dan di sana-sini tidak
terlalu banyak kesalahan ketik. Bagi seseorang yang berpengalaman
menulis, pasti tahu, bahwa karya sudah dikerjakan dengan cermat bila
karya itu dilengkapi dengan daftar singkat dan istilah, kamus kosa kata,
terutama daftar indeks untuk nama orang, tempat dan istilah, walaupun
itu selektif.
Membaca keseluruhan karya ini, dapat dirasakan bahwa penulis tidak
bermaksud untuk menulis suatu biografi TUAN MANULLANG, dan bukan pula
suatu kisah perjuangan, melainkan lebih berupa suatu “pembelaan” dan
“pelurusan diri dan perjuangan” TUAN MANULLANG, yang dari sejak mudanya
sudah menjadi aktivis, penggerak perjuangan dan massa dan kemudian
menjadi abdi negara sekaligus hamba TUHAN yang setia sampai akhir
hayatnya.
Yang digunakan penulis menjadi alat pembelaan dan pelurusan itu adalah
catatan-catatan sang tokoh dan perbandingan-perbandingan Pandangan
miring yang rasanya perlu dijawab dan diluruskan adalah pandangan yang
sudah pernah dilontarkan para peneliti (terutama dalam karya Lance
Castles, yang kalau penulis buku ini menjadi penguji disertasi peneliti
ini waktu itu, mungkin saja dia tidak lulus). Selain itu adalah
pandangan miring tentang sang tokoh, yang pernah mengkristal di kalangan
kaum anti pergerakan nasional, yang ditiupkan oleh beberapa tokoh gereja
pada zamannya dan tiupannya masih terasa sampai zaman sekarang.
Menurut pembedah, penulis buku ini berhasil dalam misinya, walaupun di
sana-sini masih diperlukan pelengkapan dan pemberian bukti-bukti
autentiknya, sehingga kesan pengkultusan sang tokoh sama sekali tidak
ada. Adalah sangat melengkapi, apabila bagian dari catatan-catatan sang
tokoh juga dilampirkan dalam karya ini.
Penuturan dalam buku ini tampaknya seperti air mengalir, di mana ada
lekuk akan dimasukinya, walaupun lekuk itu berupa lekuk yang sama
sebelumnya, dan kalau ada air dijumpai, maka akan diserapnya, hingga
semua air itu tiba di muaranya. Seni penuturan yang digunakan itulah
yang membuat penulis, menurut dugaan kami, menggunakan berbagai
ilustrasi untuk mendukung pembelaan dan pelurusan yang ingin dia lakukan.
Tampaknya “bumbu” yang diberikan itu bertujuan untuk menambah enaknya
sajian, dan bukan bungkus “kebohongan” agar tidak membosankan, melainkan
dapat diterima sebagai petunjuk bahwa tokoh yang satu ini berakar di
perjalanan bangsanya pada zamannya, dan berpengaruh para generasi di
zaman sesudahnya.
Sang Tokoh
Dengan His story, penulis telah memperkenalkan dan membela sang tokoh:
Pertama, sebagai seorang yang lahir dalam suatu keluarga ‘pahlawan,’
dan kepahlawanan sang ayah ditingkatkan oleh sang anak. Dengan
menonjolkan sang ayah sebagai ‘perwira intel raja Sisingamaraja’ yang
didutakan ke Peanajagar dekat Tarutung, sebenarnya orang mengharap apa
kira-kira jasa yang telah diberikannya kepada sang raja. Sang ayah
berhasil mempertemukan sang anak dengan raja yang sangat dihormati itu,
waktu sang tokoh masih anak-anak.
Ingin ditekankan, bahwa kekaguman sang tokoh kepada sang raja melekat
hingga di masa tuanya. Menurut hemat kami, akan lebih komplit, bila
dipaparkan bagaimana sang ayah (yang juga seorang tokoh di kalangan kaum
semarganya, seorang kaya yang menggunakan kekayaannya demi kemajuan
anak-anaknya) menanamkam semangat juang Raja Sisimangaraja yang merdeka
dan berjuang mempertahankan kemerdekaan bangsanya, baik dengan jalan
damai dan kalau perlu juga dengan angkat senjata. Ompu Singal Manullang
(melalui pendidikan keluarga) berhasil menanamkan jiwa ‘merdeka’ dalam
diri Mangihut Hezekiel Manullang.
Dari kecil tampaknya sang tokoh dipersiapkan mengemban makna nama
‘baptis’ yang diberikan missionaris kepadanya. Karakternya diharapkan
seperti Hezekiel Alkitab, dan sang tokoh diharapkan ‘mengikut’ (mengihut)
karakter itu dan nantinya berjuang di tengah bangsanya dengan cara damai
tanpa kekerasan; memperbaiki dan mempersatukan bangsanya yang telah
‘berserak-serak’ (seperti di pembuangan). Kemudian dia mendapat nama
Mangaraja, suatu nama kehormatan, baik di Angkola, maupun di Toba. Nama
itu mendekatkan sang tokoh kepada rajanya (Singa-Mangaraja), tetapi
tidak melangkahi rajanya. Dia bisa ‘mangaraja’ tetapi sang raja yang
meng-singa (merancang).
Nama itu menempatkan dirinya dengan baik di tengah kaum ‘hula-hula-nya’,
kaumnya Batak-Toba, dan negeri yang kepadanya dia mengabdi. Nama itu
juga, dengan didukung oleh kepintaran yang dimilikinya, memungkinkan
sang tokoh dipanggil ‘Tuan Manullang’, yang bermkna lebih hormat
dibanding dengan gelar-gelar tuan yang dilekatkan kepada berbagai
‘kakek-moyang’ orang Batak (seperti Tuan Mauli, Tuan Sorbadibanua, Tuan
Sihubil). Nama panggilan ini, yang menjadi semacam ‘identity card’,
menyamakan dirinya dengan kaum sibontar mata.
Kedua, sang tokoh digambarkan sebagai pemuda yang merdeka, gesit
dalam belajar dan erat dalam bergaul, suaranya didengar di kalangan
kelasnya. Dia mampu menggerakkan kawan-kawannya untuk ‘demo’ memprotes
hal-hal yang dipandang kurang beres menurut ukuran kekristenan yang
sudah tertanam dalam dirinya mulai dari rumah dan jemaat yang
mendidiknya. Dia murid Sekolah Anak Raja (SAR) di Narumonda, tetapi dia
mampu juga menguasai ilmu jurnalisme, cetak-mencetak.
Walau dia tidak tamat, tetapi mendapat bekal menunjukkan dirinya sebagai
penggerak. Ketidak-puasan mendorong pergerakan. Itu yang terjadi pada
dirinya setelah dipecat dari SAR. Dia menjadi aktivis, yang
berhadap-hadapan bukan dengan pendeta pribuminya, melainkan dengan
pendeta Eropa yang memicingkan mata melihat pribumi ingusan. Penerbit
BSB menjadi tampilan orang yang berjiwa ‘merdeka’. Orang tuanya, yang
berjiwa merdeka, ingin agar puteranya mendapat pendidikan yang sesuai
jiwanya, ‘merdeka’, sehingga dia dikirim belajar ke Singapura.
Pendidikan Methodist lebih menerampilkannya, tetapi rupanya sanubarinya
telah dirasuk ‘kemerdekaan Kristen’ yang diajarkan kaum Lutheran.
Dia menjadi perintis beberapa jemaat Methodist di Jawa, tetapi di
matanya terpampang ancaman derita yang akan dialami bangsanya, Batak,
sewaktu melihat derita penduduk Jawa yang sudah lama dijajah Belanda. Di
Jawa dia sudah menyadari perlunya; Pendidikan untuk semua, dan
pendidikan harus terjangkau oleh rakyat semiskin apapun. Walaupun dia
membawa keluarga ke Jawa, tampaknya panggilan kampung halaman lebih kuat.
Saya setuju dengan penulis, bahwa sang tokoh masuk di Methodist bukan
berarti murtad dari iman yang telah tertanam dalam sanubarinya.
Ketiga, menjadi penggerak kesadaran kemerdekaan bangsanya. Sang
Tokoh memilih Balige menjadi tempat kembali ke habitatnya di tanah
leluhurnya, dan menjadikan Balige sebagai sentra pergerakannya. Dia
memberi contoh, bahwa seorang terpelajar harus dapat menafkahi diri dan
keluarganya dengan usahanya sendiri, dan usaha itu dapat dibuat
berdampak kemajuan dan menyadarkan bangsa untuk pergerakan nasional.
Menurut kami itulah yang tersirat dalam usahanya mendirikan sekolah
berbahasa Inggris di Balige dan cabangnya di Tarutung. Dia wiraswasta
Tulen, seperti ayahnya. Namun sebenarnya perlu dicatat, bahwa
kemandiriannya juga digiring oleh sikap-sikap zendeling yang ada di
sekitarnya.
Dia cermat melihat perkembangan situasi dan gerak-gerik penjajah.
Semangat ‘kemerdekaannya’ menggelegak, sehingga dia dapat merubah
kumpulan koor “Hadomuan” yang dimasukinya/dipimpinnya di Balige menjadi
tempat mendiskusikan situasi ‘tanah air orang Batak’ dan menjadi alat
yang menyuarakan bahaya yang telah mengancam tanah Batak, dan menjadi
gerakan politik yang diberi nama HATOPAN KRISTEN BATAK. Sebenarnya
penulis buku TUAN MANULLANG harus lebih jelas menunjukkan bahwa
misionaris juga melihat bahaya aneksasi yang akan dilakukan penjajah
Belanda terhadap tanah-tanah bangsa Batak.
Pemimpin gereja di Balige setuju atas gerakan itu sehingga tidak ada
keberatan sewaktu pendirian organisasi ini dilakukan tanggal 21
September 1917 di gereja Batakmission Balige. Para Zendeling pada
mulanya melihat rencana Belanda mengkonsesi tanah Batak kepada kaum
pemilik modal. Itu jelas selagi ketua HKB dipegang oleh guru Polin
Siahaan, dan Mangaradja Hezekiel Manullang hanya sebagai wakil ketua.
Para Zendeling mulai gusar dan mulai menolak HKB setelah MH Manullang
menjadi ketua pergerakan ini pada Kongres HKB tanggal 25-28 Januari
1918. Kegusaran itu dilatarbelakangi oleh pengenalan mereka tentang sang
tokoh yang sudah berani mengatakan tidak setuju kepada pendapat
Zendeling, sejak dia sekolah di SAR Narumonda. Situasi ini juga yang
mendorong sang tokoh semakin kuat dalam pergerakannya, dan dia tahu
bahwa orang Batak sudah seperjuangan dengan dia.
Dengan pencanangan ‘menolak kedatangan “consessie-jagers’ semua orang
Batak yang sadar kemerdekaannya dan yang ingin mempertahankannya datang
menghadiri kongres-kongres yang diadakan HKB. Kenyataan yang terjadi
adalah, bahwa gereja dan HKB bekerja dengan segala kekuatan damai yang
dimiliki hingga suara mereka didengar oleh gubernur jenderal. Ternyata
HKB berhasil menyadarkan orang Batak, bahwa darah kemerdekaannya harus
dipelihara dan diperjuangkan, dan mulai bergerak untuk itu dalam
berbagai lini kehidupan termasuk lini kehidupan kegerajaan. Akhirnya
seolah ada komplotan untuk membungkam sang tokoh agar semakin merajalela.
Tidak dengan jalan melarang organisasi HKB untuk membungkamnya,
melainkan dengan delik pers yang selalu dapat dipermainkan tangan
penguasa.
Memang TUAN MANULLANG berhak mendapat bintang mahaputra di negara ini
yang berhasil membuat pers sebagai alat perjuangan bangsanya. Setelah 15
bulan di penjara Cipinang, gejolak darah orang Batak di tanah Batak
berhasil diredakan, bukan dipadamkan, terutama dengan tidak jadinya
tanah Batak dikonsesi pemerintah Belanda kepada para kapitalis. Dalam 15
bulan itu diusahakan kesan bahwa hasil perjuangan itu seolah-olah bukan
hasil perjuangan HKB yang diwakili TUAN MANULLANG menyampaikannya
langsung kepada Gubernur General Hindia Nederland. Itu sebabnya, setelah
dia pulang dari penjara ke habitatnya (1923), HKB meredup, dan tidak
berlanjut kepada gerakan kemerdekaan itu. Namun demikian, saudaranya
sabangso dan seiman, telah menangkap aspirasi bahwa orang Batak sudah
waktunya merdeka juga dalam bergereja.
Dia tidak ikut dalam pendeklarasian tiga gereja mandiri di Sumatera
tahun 1927 (Huria Cristen Batak/Huria Kristen Batak, Punguan Kristen
Batak, dan Mission Batak), tetapi perjuangan/pergerakan yang dirintis
TUAN MANULLANG mendorong para pencetus gereja mandiri tersebut
mendeklarasikan kemandiriannya. Saya sependapat dengan penulis, bahwa
HKB yang dipimpin TUAN MANULLANG tidak identik dengan HChB yang
dideklarasikan sebagai gereja oleh Federik Perdinan ‘Soetan Maloe’
Panggabean dan kawan-kawannya (1 Mei 1972). Memang perlu dicatat, bahwa
sebagai perintis kemerdekaan, TUAN MANULLANG adalah warga gereja
Batakmision yang setia. Karena perjuangannyalah maka gereja Batak
Mission diberi nama Huria Kristen Batak Prostestan (HKBP) tahun 1992,
yang sekaligus membedakannya dengan HKB (Organisasi TUAN MANULLANG dkk)
dan HChB (Gereja mandiri FP Soetan Maloe Panggabean).
Keempat, sebagai Tokoh kerukunan atau kebersamaan komponen bangsa.
Penulis telah mengungkap bahwa TUAN MANULLANG benar-benar nasionalis dan
merindukan pergerakan nasional yang dilandasi kasih dan saling mencintai
sesama anak bangsa. Mungkin dari ayahnya sudah dia tahu, bahwa rajanya
Sisingamaraja juga disertai bukan hanya oleh orang Batak Toba, dan bukan
hanya oleh kaum penganut agama Batak saja, melainkan oleh berbagai suku
bangsa yang cinta dilestarikannya kemerdekaan tanah air mereka (ada
orang Aceh, Minangkabau, yang beragama Islam dan beragam Kristen juga).
Batak Kristen yang ada di kampungnya juga telah berhasil, agar
Sisingamaraja dan pasukannya tidak berperang melawan para Zendeling dan
anggota gerejanya, melainkan berperang melawan sang penjajah yang
semakin brutal menindas di negerinya.
Redupnya HKB karena motor penggeraknya yang asli, yaitu TUAN MANULLANG,
tidak lagi di dalamnya. Namun langkah sang tokoh mendirikan Persatuan
Tapanuli dilengkapi dengan syarikat-syarikat yang menjadi sayapnya dan
dilanjut lagi dengan Persatuan Sumatra serta pergaulannya dengan
Syarikat Islam, keanggotaannya dalam Partai Insulinde, serta peranannya
dalam berbagai bond membuat beliau sebagai tokoh bangsa nasional yang
tak dapat dipungkiri.
Kelima, masuk menjadi hamba TUHAN di Huria yang sesuai dengan
semangat perjuangannya. Jiwa nasionalisnya kemudian ditunjukkannya
melalui peranannya menuntun Huria Cristen Batak, yang menahbiskannya
menjadi pendeta tahun 1940 dan menempatkannya melayani di Siaualompu
Tarutung, untuk menyesuaikan diri dengan semangat perjuangan nasional
Indonesia. Penulis mencatat mulai tanggal 15 Januari 1941 sang tokoh
mulai melayani di HChB di Tapanuli. Sayang belum juga dapat ditemukan
tanggal berapa beliau ditahbiskan menjadi pendeta tahun 1940. Dia tahu
bahwa HChB merupakan dampak dari demam kemandirian yang sudah tercanang
di Tanah Batak, yang sedikit banyak sebagai imbas pergerakan HKB yang
pernah dipimpin sang tokoh.
Dengan penuh kesadaran beliau menempuh jalan masuk menjadi pendeta di
Huria mandiri ini. Dia tahu banyak pergolakan di huria yang dimasukinya,
tetapi dia tidak ikut mencampurinya. Tetapi sewaktu tiba masanya,
bersamaan dengan waktu sesudah NKRI diproklamasikan, dia ikut menuntun
Huria yang dilayaninya tersebut memasuki ‘suasana’ nasional yang mulai
bersinar. Maka walaupun tidak dicatat terlalu banyak tentang peranannya
di synode HChB yang diadakan di Jemaat HChB Patane Porsea tanggal 16-17
Nopember 1946, dapat dipastikan bahwa sang tokoh menuntun huria mandiri
ini (HChB) mengubah namanya menjadi Huria Kristen Indonesia (HKI).
Mungkin semangat itu sebagai pencapaian sementara cita-citanya yang
menginginkan adanya Gereja Raya di Tanah Batak atau di Indonesia.
Pengalaman dipenjarakan Jepang (1942) dan panggilan tugas di
pemerintahan Jepang (kepala dinas propaganda Jepang) tahun 1943-1945
membuat sang tokoh tidak dapat ditempatkan menjadi pendeta yang penuh
waktu di resort HKI. Tetapi setiap minggu dia melayani, berkhotbah di
Jemaat HKI di mana dia berada. Dia menjadi penopang pucuk pimpinan HKI
dalam menghadapi perkaranya dengan FP Soetan Maloe yang terus memimpin
HChB yang tidak mengakui keputusan synode HChB di Patane Porsea.
Sebenarnya harus dicatat juga bagaimana sang tokoh ini bekerja terus
bersama pucuk pimpinan HKI (yang ketuanya Pdt. Thomas Josia Sitorus),
pendeta yang jauh lebih muda dari sang tokoh.
Walaupun berperan sebagai abdi negara di zaman kemerdekaan, Pdt.
Mangaradja Hezekiel Manullang terpilih juga menjadi anggota Pucuk
Pimpinan HKI tahun 1955-1959, 1959-1960. Sewaktu sang tokoh sudah
berdomisili di Medan tahun 1950 dan bekerja sebagai patih (sampai
pensiun 31 Maret 1958) beliau terus membantu perkembangan jemaat-jemaat
HKI Medan. Dalam synode HKI tahun 1960 beliau pernah mencalonkan diri
menjadi Ketua I Pucuk Pimpinan HKI (lihat Pdt. TJ. Sitorus dkk, Sejarah
Huria Kristen Indonesia, Kolportase HKI, 1978 h.172 dyb) yang menurut
tinjauan pembedah, motivasinya adalah untuk menyelesaikan konflik yang
sedang terjadi dalam tubuh HKI. Tapi unsur usia (hampir 73 tahun)
membuat beliau setuju agar kepemimpinan itu dikembalikan ke tangan
Pdt.T.J.Sitorus yang dia dukung sejak tahun 1946.
Setelah beliau pindah ke Jakarta agar bersama keluarga puteranya sejak
tahun 1967, dia mendaftar menjadi anggota jemaat HKI di HKI Pulomas yang
sudah berdiri sejak 2 April 1967 (gereja HKI tertua di Pulau Jawa), dan
kemudian ikut menggerakkan berdirinya HKI Cililitan yang berdiri tanggal
30 Agustus 1970. Beliau menjadi gembala yang menasihati jemaatnya agar
utuh bila terjadi riak-riak dakam kehidupan jemaatnya.
Jemaat-Jemaat ini yang memberangkatkan jenazah beliau menuju Siyakuompu,
sesudah beliau menghembuskan nafasnya yang terakhir di Jakarta tanggal
20 April 1979, setelah menerima perjamuan Kudus di Rumah Sakit Cikini
Jakarta, dan kemudian disambut jemaat HKI bersama semua pendeta HKI di
Silindung di Siualuompu untuk memberikan penghormatan terakhir dan
menghantar beliau ke tangan Allah Bapa dalam Tuhan Yesus Kristus.
Tanggal 7 Mei 1979, jemaat HKI Siualuompu yang dilayaninya dalam awal
kependetaannya (1941/dua tahun setelah jemaat ini berdiri tanggal 7 Mei
1939) memberikan tanda penghormatan dan surat penghargaan atas jasa-jasa
belaiau dalam membangun HKI. HKI melihat akhir hidup sang tokoh, dan
nasib masih terus bergumul untuk melanjutkan cita-citanya.
Keenam, penopang untuk kemajuan lembaga pendidikan yang
diselenggrakan gereja. TUAN MANULLANG adalah tokoh yang berpendidikan
tinggi dan punya pengalaman pendidikan di luar negeri. Gereja yang
dimasukinya juga adalah gereja yang harus mendidik putra-putrinya secara
mandiri. Di awal HChB, sekolah-sekolah HChB terkenal sebagai
sekolah-sekolah liar (wilde school). Kehadiran TUAN MANULLANG di
pemerintahan Republik ini membuat pengurusan sekolah-sekolah itu menjadi
sekolah-sekolah bersubsidi, tidak boleh dilupakan. Mertua Pembedah, Gr
Alon Siregar, yang dipercayakan untuk mengurus dan membantu
sekolah-sekolah yang dijalankan HKI mendapat subsidi dari pemerintah,
selalu berkonsultasi dengan beliau, dan sang tokoh memberi bantuan
sedapat mungkin agar urusan itu berhasil. Kemajuan ‘sekolah Inggris’ di
lembaga-lembaga pendidikan HKI waktu itu sedikit banyak atas pengaruh
beliau.
Ketujuh, sebagai Abdi Negara yang menjalankan misi damai, terima
kasih kepada penulis buku TUAN MANULLANG yang mengungkapkan apa yang
dapat dilakukan sang tokoh demi kesatuan dan persatuan bangsa Indonesia,
di zaman mempertahankan kemerdekaan dan mengisi kemerdekaan.
Mudah-mudahan cita-cita beliau tentang “Gereja Raya” dapat diterjemahkan
gereja-gereja masa kini dalam usaha menyatukan (bahkan kalau perlu
melebur) gereja-gereka Lutheran yang ada. Semangat perdamaian di
tengah-tengah bangsa, mungkin akan ditularkan menjadi semangat
perdamaian di seluruh gereja-gereja yang ada, sehingga sekat-sekat akan
ditularkan menjadi semangat perdamaian diseluruh gereja-gereja yang ada,
sehingga sekat-sekat denominasi bisa terhapus.
Beberapa Koreksi
Satu, penulis menyatakan bahwa HChB lahir pada tanggal 1 Mei
1927, h.225.263) dan itulah yang sebenarnya. Oleh karena itu apa yang
dikatakan di halaman 271 bahwa “pada tanggal 17 Juli 1927,
dideklarasikan kelahiran Huria Christen Batak (HChB) di Pematang Siantar..”
harus diperbaiki menjadi tanggal 1 Mei 1927
Dua, sebaiknya nyanyian perjuangan kemandirian pada zaman TUAN
MANULLANG (halaman 268) lengkap disalin, agar generasi muda tahu
semangatnya: ”Las roham nuaeng o bangso Batak dibahen Debata, ai dohot
ho ditodo pararat hata-Na. Najolo ho tarpodom, ala so parsidohot nuaeng
maho tarsunggul, tongtong ma ho dungo. Godang do na mangambat mulana I
songon I do nangnuaeng siparjahati. Mandok tu bangso Batak dang tau ho
laho manjujung baringinmu, ninna sibolis i. Halateon najahat sude,
pinatupa ni sibolis tahe. Alai na holong, na, tigor, TUHANta, di
patimbul bangsonta tongon. Hehe ma ho bangsongku, tinggalhon ma losokmi,
porsan ma silangNa I, unang ho ganggu. Ise be mangambat ho, jolma
sibolis pe ro, talu ai Jesus di ho. Ima donganmu.” Mungkin lagu ini
perlu dinyanyikan seluruh orang Batak, dalam memasuki seratus tahun
kedua kebangkitan nasionalismenya. HKI memang membuat lagu ini menjadi
lagu marsnya dengan mengubah “bangso Batak,” “bangsongko”, “bangsonta”,
menjadi “HKI.”
Tiga, penulis mengakui adanya Huria Kristen Batak Naparjolo di
Medan, dan tanggal 9 Desember 1928 mengkristal menjadi Huria Kristen
Batak yang bergabung dengan HChB di Pematang Siantar tahun 1932, dan
menjadi Huria Kristen Indonesia Jalan Dahlia Nomor 2 di Medan. Penulis
kurang jelas memaparkan hubungan Partij 123 yang muncul sebagai gerakan
kemandirian di Medan dengan jemaat ini.
Empat, menurut hemat kami, adalah sangat baik apabila dalam
daftar literatur yang digunakan itu juga didaftarkan beberapa buku yang
pernah ditulis tentang HKI setelah Pdt. Mangaradja Hezekiel Manullang
berkarya di HKI. Misalnya: Mangontang S.M.Panjaitan, Jawaban HKBP
terhadap pelbagai Gereja yang tumbuh di sekitarnya. Suatu tinjauan
historis-theologis para periode 1929-1951 (Thesis yang diserahkan kepada
SEAGST untuk memenuhi persyaratan memperoleh gelar Master of Theology
bidang Sejarah Gereja, 1988; B.Silitonga, parsorian Parhuriaon HChB/HKI
Sosunggulon Tarutung, 26 September 1932-26 September 1928 (Tarutung,
1982); T.J.Sitorus, dkk., Sejarah Huria Kristen Indonesia.
Pematangsiantar:Kolportase HKI, 1978.
Penutup
Terimakasih sekali lagi kami sampaikan kepada penulis, Bapak Dr. PTD
Sihombing, MSc., SPd. Mohon maaf, kalau tugas pembedahan ini kurang
memenuhi harapan.
Mengakhiri pembedahan ini, biarlah kata-kata ini berkumandang:
BUATMU SANG PENDEKAR
Gugur sudah engkau pahlawan perintis
Tetapi semangatmu akan selalu menitis
Walau engkau di zamanmu menangis
Perjuanganmu tidak akan pernah terkikis
Di sanubari para penerusmu tetap terlukis
Betapa mulia perjuangan dan karya yang telah engkau rintis
Disampaikan di Jakarta tanggal 24 Mei 2008
oleh Pdt. Lamgsung Maruli Sitorus.
Pada acara pembedahan dan peluncuran
Buku TUAN MANULLANG
Judul:
Tuan Manullang
Subjudul:
Pendeta Mangaradja Hezekiel Manullang
Pahlawan Perintis Kemerdekaan Bangsa Indonesia & Pelopor Semangat
Kemandirian Gereja di Tanah Batak
Penulis:
Dr. PTD. Sihombing, M.Sc., S.Pd
Penerbit:
Albert-Orem Ministry bekerja sama dengan Pemerintah Kabupaten Humbang
Hasundutan
Cetakan:
Edisi Pertama, Mei 2008
Halaman:
XXXIX + 398 halaman
►ti/
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|
|