| |
C © updated 05022004 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/rpr |
|
| |
Nama
Dr. Mochtar Riady (Lie Mo Tie)
Lahir
Malang, Jawa Timur, 12 Mei 1929
Jabatan:
Pendiri Grup Lippo dan Universitas Pelita Harapan
Pendidikan
= The Eastern College, Chung Yang University, Nanking, RRC
= Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia
= Doctor of Laws dari Golden Gate University, San Francisco, Amerika
Serikat
Hobi
Baca Buku (al buku Peter Drucker dan Prof Freeman)
Kegiatan lain:
- Pembicara tamu di Universitas Harvard pertengahan 1984
- Wali Amanah Universitas Indonesia
Sumber:
Berbagai sumber, antara lain, Sinar Harapan 11 April 2003 dan
entrepreneur-university.com/new/tokoh. php?tokohID=6&aksi=detail
|
|
| |
|
|
|
|
| BERITA |
|
|
 |
Dr. Mochtar Riady
Mundur dari Komut LippoBank
Jakarta, Kompas 5/3/2005: Pemegang saham Bank Lippo, Mochtar Riady,
mengundurkan diri sebagai Komisaris Utama Bank Lippo. Posisi Mochtar akan
digantikan oleh Christopher J Williams yang ditunjuk oleh Konsorsium
Swissasia Global. Posisi Mochtar Riady saat ini sebagai honorary chairman
(pemimpin kehormatan) dan penasihat senior di Bank Lippo.
Alasan Mochtar mengunduran diri, karena untuk menjaga kesinambungan
perusahaan-perusahaan di bawah bendera Grup Lippo.
"Saya kira setiap perusahaan harus mampu menjaga kinerja perusahaannya
secara baik dan kesinambungannya harus bisa dijaga. Untuk itu, hanya satu
jalan, yaitu perlu melembagakan perusahaan family (keluarga)," kata
Mochtar Riady di Jakarta, Jumat (4/3).
"Kelembagaan dari perusahaan mempunyai dua ciri khas. Pertama, ada suatu
pemisahan antara ownership (kepemilikan) dan manajemen, dan yang kedua
adalah mengubah hubungan yang tadinya hubungan antara perorangan dengan
perorangan menjadi hubungan antara lembaga dengan lembaga di dalam satu
perusahaan," ujar Mochtar.
Pengunduran diri Mochtar ini telah disetujui oleh pemegang saham dalam
Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) Bank Lippo kemarin.
Sejarah PT Bank Lippo Tbk berakar dari keberadaannya sebagai salah satu
bank swasta pertama di Indonesia ketika NV Bank Perniagaan didirikan tahun
1948. Selama bertahun-tahun bank tersebut mengalami berbagai perubahan,
termasuk merger.
Tahun 1977, PT Bank Perniagaan Indonesia melakukan merger dengan NV
Central Commercial Bank. Pada tahun 1989 bank tersebut mengubah namanya
menjadi LippoBank. Pada tahun yang sama mereka merger dengan PT Bank Umum
Asia dan sejak itu tetap memakai nama LippoBank.
Tahun 1989 menjadi sangat bersejarah bagi LippoBank karena pada tahun itu
LippoBank go public dan saham-sahamnya mulai diperdagangkan di Bursa Efek
Jakarta. Bank Lippo ini merupakan cikal bakal Grup Lippo
Per 29 Februari 2004, Swissasia Global menjadi pemegang saham mayoritas
LippoBank dengan kepemilikan 52,05 persen setelah pemerintah menjual
sahamnya ke Swissasia.
Mochtar Riady yang lahir di Malang, Jawa Timur, 12 Mei 1929, juga pernah
menjabat sebagai direktur di Bank Perniagaan. Mochtar masuk BCA pada 1975
dan bersama Sudono Salim membesarkan BCA. Sebelumnya, dia pernah bekerja
di Bank Kemakmuran, Bank Buana, dan Bank Panin, serta berandil besar dalam
memajukan bank-bank tersebut.
Dalam penjelasannya, Mochtar menambahkan, kalau sudah ada lembaga dalam
satu perusahaan, berarti semua hubungan itu harus jelas sehingga
perusahaan diharapkan bisa bertahan lebih lama.
"Saya merasa bahwa saya memiliki dua kewajiban yang demikian agar
perusahaan-perusahaan yang pernah saya bangun bisa bertahan lama.
Langkah-langkah menuju kelembagaan ini sebenarnya sudah dimulai tahun
1991. Buktinya adalah setelah saya memisahkan diri dari BCA dan saya
akhirnya menjadi pemegang saham utama di Bank Lippo, justru pada saat itu
James Riady, anak saya yang tadinya menjadi Presiden Direktur Bank Lippo,
mengundurkan diri," tuturnya.
Ia menlanjutkan kisahnya, "Pada tahun 2004, anak mantu saya, Jeffry
Wangsono, juga meletakkan jabatannya sebagai presiden direktur di
Multipolar dan saya kira sekarang adalah giliran saya yang harus
meletakkan jabatan saya sebagai komisaris utama di Bank Lippo."
Dia melanjutkan, berdasarkan alasan-alasan tersebut, maka di
perusahaan-perusahaan yang menyandang nama Lippo sama sekali tidak ada
anggota Keluarga Riady yang duduk.
"Semuanya diserahkan kepada profesional untuk menjalankannya agar
kelembagaan dari perusahaan itu bisa terwujud. Inilah kira-kira latar
belakang saya dalam menjalankan perusahaan," katanya lagi.
Mochtar mengatakan pihaknya belum mempunyai rencana untuk kembali menjadi
pemegang saham mayoritas di Bank Lippo. Bahkan, ketika ditanya apakah
Keluarga Riady akan meninggalkan bisnis perbankan dan fokus ke properti,
Mochtar menolak menjawab hal tersebut.
Sebagai kelompok bisnis, Grup Lippo memiliki beberapa usaha yang bergerak
dalam segala bidang, seperti properti dengan Lippo Karawaci, usaha ritel
dengan Matahari Putra Prima, asuransi, dan perbankan.
Pada Oktober 1996, nama Mochtar dan James Riady sempat menjadi pembicaraan
karena disebut sebagai salah satu kontributor dana kampanye Presiden AS
Bill Clinton dalam pemilu presiden November 1996. Mereka menyumbang
100.000 dollar AS.
Target kredit
Direktur Utama Bank Lippo Joseph FP Luhukay mengatakan, target kucuran
kredit Bank Lippo meningkat 35 persen hingga 50 persen menjadi Rp 7,5
triliun-Rp 8 triliun tahun ini.
Dia menambahkan, hingga akhir Desember 2004, Bank Lippo membukukan laba
bersih sebesar Rp 892,684 miliar dibandingkan dengan rugi bersih Rp
515,957 miliar pada tahun 2003, dan pendapatan bunga bersih Rp 935,142
miliar dibandingkan dengan Rp 708,021 miliar pada tahun 2003.
Lonjakan laba bersih pada tahun 2004 itu terutama karena ditunjang oleh
pendapatan non- operasional yang mencapai Rp 481,159 miliar dibandingkan
dengan beban pendapatan non- operasional sebesar Rp 367,394 miliar tahun
2003.
Pada Maret 2003, Badan Pengawas Pasar Modal (Bapepam) menjatuhkan sanksi
denda Rp 2,5 miliar kepada direksi Bank Lippo secara tanggung renteng.
Sanksi administratif tersebut dijatuhkan atas kesalahan kurang hati-hati,
yakni menyatakan laporan keuangan per 30 September 2002 yang belum diaudit
(unaudited) sebagai telah diaudit (audited) sehubungan dengan penjualan
aset yang diambil alih. Akibatnya, rasio kecukupan modal (CAR) Bank Lippo
merosot menjadi 4,23. (joe)
***
JAKARTA (Media Indonesia, 5/3/2005): Mochtar Riady mengundurkan dari jabatan komisaris utama
PT Bank Lippo Tbk (LippoBank), kemarin. Pengunduran ini menandai tidak
adanya lagi keluarga Riady yang duduk jajaran pimpinan LippoBank.
Pengunduran ini dilakukan karena Mochtar menginginkan agar bisnis keluarga
tersebut berubah menjadi entitas bisnis kelembagaan yang sepenuhnya
berjalan atas tuntutan profesionalisme.
''Saya memandang perlu dilakukan upaya untuk melembagakan perusahaan
keluarga untuk meningkatkan kinerja. Untuk mewujudkannya, maka mulai saat
ini tidak ada lagi anggota keluarga Riady dalam perusahaan,'' ujar Mochtar
usai rapat umum pemegang saham (RUPS) tahunan LippoBank di Jakarta,
kemarin.
Mochtar menjelaskan, untuk meningkatkan kinerja perusahaan, perlu
dilakukan pemisahan struktural yang jelas antara pemilik perusahaan
(ownership) dan manajemen perusahaan.
Pemisahan tersebut diperlukan untuk mengubah hubungan kerja perusahaan
yang semula hanya sekadar hubungan antar perorangan secara informal
menjadi hubungan antar lembaga secara formal yang dibekali dengan
perjanjian tertulis.
Hingga saat ini, kepemilikan saham keluarga Riady di Lippo melalui PT
Lippo E-Net Tbk hanya tersisa 5,7%. Pemegang saham mayoritas perusahaan
adalah SwissAsia Global dengan kepemilikan saham sebesar 52,05%. Sebesar
2,55% lainnya dikuasai oleh pemerintah dan sisanya dikuasai oleh publik.
Mochtar juga menegaskan bahwa pihak keluarga Riady tidak akan berupaya
untuk menjadi pemegang saham mayoritas atau berusaha untuk menambah
kepemilikan saham lagi.
Dengan mundurnya Mochtar, maka posisi Komisaris Utama perusahaan dipegang
oleh Christopher Williams yang ditunjuk oleh konsorsium SwissAsia Global
yang dimotori oleh Raiffeisen Zentral Bank (RZB). RZB adalah institusi
dari The Austrian Raiffeisen Banking Group di Austria.
Pendiri Lippo Group
Mochtar Riady adalah pendiri Lippo Group yang memulai karier intinya di
bidang perbankan. Pengusaha yang dijuluki filsuf di Lippo Group ini pernah
dianugerahi 'Life Time Achievement Entrepreneur of the Year 2004' oleh
Ernst & Young.
Mochtar, yang dianugerahi gelar Doktor di bidang hukum oleh Golden Gate
University, San Francisco, AS ini memulai kariernya di dunia usaha,
khususnya perbankan, pada 1960, ketika dia mengumpulkan beberapa investor
untuk membeli sebuah bank kecil.
Pada 1964, pengusaha yang lahir di Malang, Jawa Timur 12 Mei 1929 ini
mulai bekerja di Bank Buana dan enam tahun kemudian memutuskan untuk
pindah ke Panin Bank. Pada 1975, Mochtar bergabung dengan Bank Central
Asia (BCA) yang pada saat itu masih sebuah bank swasta kecil.
Di BCA Mochtar mendapatkan saham sebanyak 17,5% dan menjadi orang
kepercayaan Liem Sioe Liong. Aset BCA ketika Mochtar bergabung hanya
Rp12,8 miliar dan naik drastis menjadi lebih dari Rp5 triliun pada 1990
ketika dia meninggalkan bank ini.
Saat masih berkutat di BCA, Mochtar membeli sebagian saham di Bank
Perniagaan Indonesia milik Haji Hasyim Ning pada 1981. Waktu dibeli, aset
bank milik keluarga Hasyim telah merosot menjadi hanya sekitar Rp16,3
miliar. Setelah dia bergabung, aset Bank Perniagaan Indonesia melonjak
lebih dari 1.500% menjadi Rp257,73 miliar.
Pada 1989, Bank Perniagaan Indonesia melakukan merger dengan Bank Umum
Asia. Bank hasil merger ini kemudian dikembangkan dan pada 1991 lahirlah
LippoBank, yang merupakan cikal bakal grup Lippo.
Tidak merger
Pada kesempatan sama, Direktur Utama LippoBank Jos Luhukay mengungkapkan
pihaknya tidak memiliki rencana untuk melakukan merger dengan bank atau
mengakuisisi lembaga keuangan lainnya. Ini disampaikan menanggapi seruan
Bank Indonesia (BI) agar bank-bank melakukan konsolidasi.
''Kami belum memiliki rencana ke arah itu. Sebab selama ini, pembahasan ke
arah itu hanya sekadar wacana. Namun kami masih menunggu arahan dari
regulator perbankan untuk selanjutnya.''
Jos juga mengungkapkan konsep akuisisi, konsolidasi maupun merger
sebenarnya tidak tepat diterapkan di Indonesia sebab jumlah bank yang ada
terlalu banyak sehingga langkah tersebut membutuhkan biaya tinggi.
''Ada sekitar 2.200 bank di seluruh Indonesia. Jika pemerintah ingin
memperkecil jumlah bank hingga hanya menjadi 10 buah, artinya sebuah bank
harus mengakuisisi sedikitnya 200 bank lain. Biayanya mahal sekali dan
waktunya akan lama.''
Hingga akhir 2004, LippoBank membukukan laba bersih Rp893 miliar setelah
tahun sebelumnya merugi bersih Rp515 miliar. Namun, secara akumulatif
perusahaan masih mengalami rugi bersih sebesar Rp9,2 triliun. Untuk itu
perusahaan berencana untuk melakukan kuasi reorganisasi tahun ini. (AD/E-2) ►e-ti
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|
|