| |
C © updated
24072004 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/tempo |
|
| |
Nama:
Prof Dr H Munawir Sjadzali MA
Lahir:
Desa Karanganom, Klaten, 7 November 1925
Meninggal:
Jakarta, 23 Juli 2004
Agama:
Islam
Isteri:
Murni Sjadzali (Menikah 1950)
Anak:
Muchlis (almarhum), Mustahdiyati, Mustain, Muhtadi, Mutiawati, dan
Muhflihatun
Cucu:
14 orang
Ayah:
Kiyai Haji Mughofir
Ibu:
Byai Tas'iyah
Pendidikan:
= Madrasah Thanawiyah Al-Islam
= Pesantren Membaul Ulum
= Sekolah Tinggi Islam Mambaul Ulum di Solo tamat 1943
= University of Exeter, Inggris, ilmu politik dan hubungan internasional.
= Master of Art bidang Filsafat Politik dengan tesis Indonesia’s Moslem
Parties and Their Political Concepts di Georgetown University Amerika
Serikat (1959)
Pekerjaan:
= Guru SD Islam Gunungjati, Ungaran, 1944
= Perwira penghubung pada revolusi kemerdekaan
= Staf Seksi Arab/Timur Tengah Deplu (1950)
= Atase/Sekretaris III Kedutaan Besar RI di Washington, AS (1956-1959)
= Kepala Bagian Amerika Utara, Deplu (1959-1963)
= Sekretaris I, Kedutaan Besar Republik Indonesia di Colombo, Sri Lanka
(1965-1965)
= Kuasa Usaha, Kedutaan Besar Republik Indonesia di Sri Lanka (1965-1968
= Kepala Biro, Tata Usaha Sekretariat Jenderal, Deplu (1969-1970)
= Bertugas di Kedutaan Besar Republik Indonesia di London (1971-1974)
= Kepala Biro Umum, Deplu (1975-1976)
= Duta Besar di Uni Emirat Arab, Bahrain dan Qatar (1976-1980)
= Direktur Jenderal Politik Deplu (1980-1983)
= Menteri Agama Republik Indonesia (1983-1993)
= Anggota Dewan Pertimbangan Agung (1993-1998)
= Ketua Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (1993-1998)
Karya Tulis:
(1) Islam dan Tatanegara: Ajaran, Sejarah dan Pemikiran
(2) Islam: Realitas Baru dan Orientasi Masa Depan Bangsa
(3) Mungkinkah Negara Indonesia Bersendikan Islam?
Penghargaan, al:
= Bintang Mahaputra Adipradana dan Satyalencana Karya Satya Kelas
II dari Pemerintah Indonesia
= Great Cordon of Merit dari Pemerintah Qatar
= Medallion of the Order of Quwait-Special Class dari Kuwait
= Heung in Medal-Second Class dari Korea Selatan
Alamat Rumah:
Jalan Bangka VII No.5-B Kebayoran Baru, Jakarta Selatan |
|
| |
|
|
|
|
Prof Dr H Munawir Sjadzali MA
Diplomat dan Pembaharu Islam
Bangsa Indonesia kehilangan seorang tokoh besar, diplomat santun dan
pembaharu Islam. Mantan Menteri Agama (1983-1988 dan 1988-1993) dan Ketua
Komisi Nasional Hak Asasi Manusia pertama (1996-1998), Prof Dr H Munawir
Sjadzali MA meninggal dunia di Rumah Sakit Pondok Indah, Jakarta, Jumat 23
Juli 2004 pukul 11.20. Jenazah mantan anggota Dewan Pertimbangan Agung
(1993-1998), ini disemayamkan di rumah duka di Jalan Bangka VII No.5-B
Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, dan dimakamkan di tempat pemakaman
keluarga Giritama, Bogor, Jawa Barat, hari Sabtu 24 Juli 2004.
Pria kelahiran Desa Karanganom, Klaten, 7 November 1925, ini meninggalkan
istri, Murni Sjadzali, yang dinikahinya pada 1950 dan enam anak, yaitu
Muchlis (almarhum), Mustahdiyati, Mustain, Muhtadi, Mutiawati, dan
Muhflihatun, serta 14 cucu. Ia sempat dirawat di rumah sakit tersebut
sejak 8 Juni 2004, akibat serangan stroke dan komplikasi beberapa penyakit.
Masa kecil dilalui di desa kelahirannya Karanganom, Klaten, Jawa Tengah
dalam keluarga sederhana dan taat beragama. Ayahnya almarhum Kiyai Haji
Mughofir dan ibunya Byai Tas'iyah mendidiknya dengan ilmu agama. Ia
sekolah di Madrasah Thanawiyah Al Islam di bawah asuhan Kiyai Ghazali,
seorang ulama terkenal waktu itu. Suatau ketika ia pernah mengungkapkan
masa kecilnya kepada para santri di Pondok Pesantren Kebarongan, Banyumas,
Jawa Tengah, "Dulu, saya bersekolah tak mengenal sarapan, apalagi sepatu.
Tapi tak pernah lalai."
Ia pun berkisah suatu ketika untuk menebus ijazah, karena ketiadaan uang,
ibunya menjanjikan akan menjual gelugu (batang pohon kelapa) di depan
rumahnya. Lalu setelah ia menebus ijazah, tiba di rumah ia kaget, karena
gelugu masih tetap tegak berdiri. Sang Ibu ternyata menjual kainnya. "Lalu
bagaimana kalau Ibu mau ganti kain?" Ibunya tenang menjawab, "Kan bisa
memakai sarung punya Ayah." Anak sulung dari tiga bersaudara ini pun tidak
kuat membendung air matanya. Ia tersedu, bersimpuh di pangkuan ibunya.
Selesai SMP, ia melanjut ke Pesantren Membaul Ulum dan Sekolah Tinggi
Islam Mambaul Ulum di Solo hingga tamat 1943. Ia semula bercita-cita
sekolah di Universitas Al-Azhar, Cairo, Mesir, tetapi tidak kesampaian
karena ayahnya, Kiai Mughaffir--pemimpin pesantren kecil di Klaten,
seorang ahli nahwu (tata bahasa Arab)--tidak mampu membiayai.
Batal kuliah di Universitas Al-Azhar, ia lantas mengajar di SD Islam
Gunungjati, Ungaran, 1944, sampai pecah revolusi kemerdekaan, ia ikut
bergabung dalam perjuangan kemerdekaan sebagai perwira penghubung antara
Markas Pertempuran Jawa Tengah di Salatiga dan Badan Kelaskaran Islam.
Sehabis revolusi kemerdekaan, ia pindah ke Jakarta. Rajin keluar masuk
perpustakaan, ia kemudian menulis buku berjudul ”Mungkinkah Negara
Indonesia Bersendikan Islam?” pada 1950. Buku ini mendapat perhatian
publik dan kemudian dibaca Bung Hatta. Oleh Bung Hatta, buku pertamanya
dinilai perlu dikembangkan kualitasnya karena tidak klise.
Buku ini pula membuat Bung Hatta tertarik pada Munawir muda ini. Lalu Bung
Hatta memfasilitasinya memperoleh pekerjaan sebagai staf Seksi Arab/Timur
Tengah Deplu (1950). Di departemen ini, harapannya untuk belajar di luar
negeri terkabul meskipun tidak di Universitas Al-Azhar, tetapi di
University of Exeter, Inggris. Di Inggris, Munawir mengambil kursus
diplomatik dan konsuler serta mendalami ilmu politik dan hubungan
internasional.
Kemudian ia menjadi Atase/Sekretaris III Kedutaan Besar RI di Washington,
AS (1956-1959). Pada masa ini, ia menyempatkan diri melanjutkan studi di
Georgetown University Amerika Serikat hingga memperoleh ijazah Master of
Art bidang Filsafat Politik dengan tesis Indonesia’s Moslem Parties and
Their Political Concepts (1959). Kemudian ia menjabat dan Kepala Bagian
Amerika Utara, Deplu (1959-1963).
Selepas meraih gelar master itu, karir diplomat yang gemar mendengarkan
musik ini makin cemerlang. Ia dipercaya menjabat Setiausaha Pertama,
Kedutaan Besar Republik Indonesia di Colombo, Sri Lanka (1965-1965). Lalu
menjabat Kuasa Usaha, Kedutaan Besar Republik Indonesia di Sri Lanka
(1965-1968). Kemudian di tarik ke Jakarta menjabat Kpala Biro, Tata Usaha
Sekretariat Jenderal, Deplu (1969-1970). Lalu bertugas di Kedutaan Besar
Republik Indonesia di London (1971-1974), sebelum diangkat menjadi Kepala
Biro Umum, Deplu (1975-1976).
Lalu diangkat menjabat Duta Besar di Uni Emirat Arab, Bahrain dan Qatar
(1976-1980), sebelum ditarik kembali ke Jakarta menjabat Direktur Jenderal
Politik Deplu (1980-1983). Kemudian diangkat menjabat Menteri Agama
Republik Indonesia (1983-1993). Selepas itu, ia pun mengakhiri karir dan
pengabdiannya pada negara sebagai Ketua Komisi Nasional Hak Asasi Manusia
dan anggota Dewan Pertimbangan Agung (1993-1998).
Sebagai seorang negarawan dan ilmuan, ia amat berminat dalam mengembangkan
ilmu Islam. Penguasaan dan pemikirannya menonjol dalam dua bidang yaitu
Hukum Islam dan Fiqh Siyasi. Di antara karya ilmiah yang pernah
dihasilkannya adalah (1) Islam dan Tatanegara: Ajaran, Sejarah dan
Pemikiran, (2) Islam: Realitas Baru dan Orientasi Masa Depan Bangsa, dan
(3) Mungkinkah Negara Indonesia Bersendikan Islam. Buku ketiganya ini
mendapat perhatian umum.
Ia dikenal seorang yang diplomat yang tenang, tulus dan pandai mendongeng.
Seringkali ketika menyampaikan pemikiran dan gagasannya, ia menggunakan
dongeng sebagai perantara. Suatu ketika, saat menjabat sebagai Menteri
Agama, di depan para ulama Jawa Barat Munawir mengisahkan persahabatan
antara petani dan beruang.
"Suatu ketika, beruang marah karena seekor lalat mengganggu tidur petani.
Beruang mengambil batu besar dan kemudian menghunjamkannya ke dahi petani
yang dihinggapi lalat. Siapa pun tidak meragukan kesetiaan beruang, tetapi
kebodohannya membuat petani mati. Yang mirip beruang banyak terdapat di
masyarakat. Berlagak membela agama, padahal mementingkan dirinya sendiri,"
ujarnya.
Semasa menjabat Menteri Agama, Munawir telah membangun Departemen Agama
menjadi departemen yang bergengsi. Ia juga tercatat sebagai menteri agama
yang sangat memerhatikan pendidikan. Terutama dengan kebijakan mengirim
mahasiswa untuk belajar di luar negeri.
Ia senang mendengarkan musik. Memiliki rekaman Tchaikovsky dan Beethoven,
namun penggemar biduanita Mesir, Ummi Kalsum, ini merasa lebih at home dan
in betul bila menikmati gambus.
Di mata para sahabatnya, ia seorang pemimpin pembaharu pemikiran Islam dan
mempunyai banyak gagasan. Dialah yang menggagas pertemuan tahunan
Menteri-Menteri Agama Negara Brunei Darussalam, Republik Indonesia,
Malaysia dan Singapura. Ide dan gagasannya dalam kongres Menteri-Menteri
Agama seluruh dunia di Jeddah pada tahun 1988, telah diterima beberapa
negara, sehingga diadakan empat kali pertemuan tahunan untuk meningkatkan
pembaharuan pemikiran perihal Islam di kalangan negara anggota.
Dalam pengabdiannya, ia telah mendapatkan sejumlah penghargaan, termasuk
dari sejumlah negara sahabat. Antara lain, penghargaan Bintang Mahaputra
Adipradana dan Satyalencana Karya Satya Kelas II dari Pemerintah
Indonesia, Great Cordon of Merit dari Pemerintah Qatar, Medallion of the
Order of Quwait-Special Class dari Kuwati, dan Heung in Medal-Second Class
dari Korea Selatan.
Selain Menag Said Agil Husin Al Munawar, sejumlah mantan pejabat dan tokoh
yang hadir di rumah duka antara lain mantan Menteri Penerangan Harmoko,
mantan Mendagri Rudini, dan mantan Menko Ekuin JB Sumarlin. Selama dirawat
di rumah sakit, beberapa tokoh juga menjenguk. Bahkan, mantan Presiden
Soeharto baru menjenguknya dua hari sebelum Munawir meninggal. ►tsl
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|
|