| |
C © updated 17102007 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/ |
|
| |
Nama:
Prof Dr Raden Pandji Soejono
Lahir:
Mojokerto, Jawa Timur, 27 November 1926
Pendidikan:
- ELS, Mojokerto (1939)
- HBS, Malang (1942)
- SMA, Yogyakarta (1950)
- Fakultas Sastra UI (Sarjana, 1959
- Doktor, 1977)
Karir:
- Asisten Purbakala pada Dinas Purbakala (1956-1960)
- Kurator Prasejarah pada Museum Pusat, Jakarta (1956-sekarang)
- Kepala Kantor Cabang II Lembaga Purbakala dan Peninggalan Nasional,
Bali (1960-1964)
- Dosen Luar Biasa pada Universitas Udayana (1960-sekarang)
- Kepala Bidang Prasejarah pada Pust Penelitian Arkeologi Nasional,
Jakarta (1960-sekarang)
- Dosen Luar Biasa UGM (1963-sekarang) Kepala Pusat Penelitian Arkeologi
Nasional (1977-sekarang).
Kegiatan Lain:
- Ketua Yayasan Perguruan Ksatrya (1951-sekarang)
- Ketua Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia (IAAI), 1976-sekarang
Karya:
- Antara lain: Prehistoric Indonesia, Dynamics of Indonesian
Story, Netherlands, 1978
- Trends in Prehistoric Research in Indonesia, Modern Quaternary
Research, 1982
- Artifacs from Hominid Bearing Formation in Java, makalah, 1984
Alamat Rumah:
Jalan Cipete VII/87A, Cipete Selatan, Jakarta Selatan Telp:
760354
Alamat Kantor:
Pusat Penelitian Arkeologi Nasional, Jalan Raya Condet Pejaten 4,
Jakarta Pusat Tel. 798187
Sumber:
Kompas, 20 Oktober 2007 dan pdat
|
|
| |
|
|
|
|
| RP SOEJONO HOME |
|
|
 |
Prof Dr Raden Pandji Soejono
Arkeolog Nasionalistik dan Mandiri
Umur tidak menyurutkan semangat dan tekad. Umur hanya
mengurangi keleluasaan gerak, sebaliknya tekad pantang menyerah tabu
untuk surut. Itulah sikap hidup Prof Dr Raden Pandji Soejono --genap 81
tahun tanggal 27 November 2007—arkeolog senior prasejarah yang
sehari-hari masih berkantor di Lembaga Arkeologi Nasional, Pejaten,
Pasarminggu.
Berkat kegigihannya, arkeologi Indonesia yang pada awalnya berciri
amatiran menjadi satu cabang ilmu pengetahuan dalam kegiatan yang diatur
sesuai standar internasional. Berkat kegigihanya, arkeologi (ilmu
tentang purbakala) Indonesia menjadi nasionalistik dan mandiri, dan
menjadikan Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (Puslit Arkenas) sebagai
pusat penelitian yang disegani di dunia internasional.
Di tahun 1950, empat mahasiswa Universitas Indonesia membuat kesepakatan.
Soekmono dan Satyawati Soelaiman, dua dari empat mahasiswa pertama
jurusan sejarah kuno dan ilmu purbakala, memillih bidang klasik.
Boechari memilih bidang epigrafi. Soejono bidang prasejarah.
“Mereka sudah almarhum semua, tinggal saya," kata Pak Jono—demikian
rekan dan anak didiknya menyapa akrab—di kantornya, Kamis (11/10). Empat
bidang yang dirintis tahun 1950 itu menonjol dalam pengkajian arkeologi
di Indonesia, khususnya masalah kepurbakalaan yang ditangani ahli-ahli
Indonesia. Menyusul kemudian Uka Tjandrasasmita yang mengambil
spesialisasi bidang Islam.
Menurut Soejono, mantan Kepala Puslit Arkenas (1977-87), saat ini dengan
dimasukkannya Puslit Arkenas dalam Departemen Kebudayaan dan Pariwisata,
arkeologi di Indonesia “mati suri". Penelitian tidak lagi seramai
tahun-tahun 80-an. Arkeologi disempitkan dalam sisi manajemen, sedangkan
ilmunya tidak. Mengembangkan dan memperkenalkan kekayaan alam dan
manusia Indonesia memang perlu, tetapi yang tidak kalah penting adalah
isi, ilmu yang menjadi sarana dan fondasi awal mula suatu masyarakat
modern Indonesia.
“Kalau terus dibiarkan kekayaan ilmu pengetahuan kita diambil orang luar.
Kita belajar dari mereka. Kita tidak lagi pemegang kendali dan sumber,
sebaliknya kita mempelajari tentang diri kita lewat pengetahuan dan
bahan dari orang lain. Belum lagi banyak peninggalan kita dibawa orang,"
tegas Soejono yang mengucapkannya sambil bergetar. Bergetar tidak karena
pikun, tetapi karena marah-kecewa campur aduk jadi satu. Betapa tidak di
tangan putra mantan anggota >f 9002f 9001< mantan Gubernur Jawa Tengah,
mantan menteri, Raden Pandji Soeroso--berkat ketekunan berteman dengan
temuan-temuan benda kuno dan pendalaman kehidupan masa lampau khususnya
prasejarah, Indonesia dikenal dan disegani dunia internasional dalam
cabang arkeologi.
Karena keprihatinan, campur aduk marah-kecewa dan tekadnya, bersama 17
budayawan lain di tahun 2000 menyampaikan “Pernyataan (Petisi) kepada
Presiden RI". Mereka ingin posisi kebudayaan termasuk arkeologi tidak
dipinggirkan dan nama Puslit Arkenas dikembalikan seperti semula. Petisi
mereka diabaikan. Nnama Puslit Arkenas diganti menjadi Asisten Deputi
Urusan Arkeologi Nasional. Di sana tidak hanya arkeolog tetapi juga
antropolog, sejarawan, ahli seni, dan lain-lain yang menyiapkan
kebijakan tentang pariwisata, seni, dan budaya.
Arkeologi kosmetik
Memperoleh gelar doktor dari UI tahun 1977 tentang situs prasejarah
Gilimanuk, lebih dari 50 tahun bergelut untuk kemajuan arkeologi,
memperoleh gelar profesor tahun 1984, nama Soejono tidak lepas dari
posisi terhormat arkeologi Indonesia. Bersama tiga nama “perintis
arkeologi", dia meninggalkan jejak langkah.
Di antaranya selain kerja keras dan semangat, juga metode penggalian
arkeologi kosmetik, metode yang dia ikuti secara ketat dari gurunya,
Prof van Heekeren sejak tahun 1952. Arkeologi kosmetik atau >f 9002f
9001Metode arkeologi klasik memiliki kelebihan dan kekurangan.
Kelebihannya diperoleh data yang akurat, dan kesimpulan atau tafsir
tidak gegabah. Kekurangannya lamban, super hati-hati—suatu kebiasaan
yang barangkali tidak populer di zaman sekarang yang menuntut serba
cepat. Meskipun demikian metode ini relatif diikuti oleh para arkeolog
muda—dengan catatan penelitian lapangan terutama ekskavasi tidak seramai
dulu—bahkan menurut Soejono, saat berulang tahun ke-80, tahun lalu,
kondisinya tidak lagi kondusif menguntungkan terutama sebagai ilmu.
Sebagai arkeolog bidang prasejarah, Soejono berhasil meyakinkan,
arkeologi tidak sekadar mengungkap peninggalan yang sudah berkalang
tanah. Untuk memperoleh pengetahuan lebih lengkap, bangsa bersangkutan
akan memberikan perhatian pada obyek-obyek kuno yang diperoleh dari
dalam tanah.
Sebagai ilmu, menurut keyakinan Soejono, arkeolog akan terus waspada
atas temuan dan tafsir baru demi pengetahuan dan kelengkapan suatu
masyarakat. Penelitian arkeologis tidak hanya didasarkan atas
artefak-artefak yang ditemukan, tetapi juga lingkungan sekitar dan
kebiasaan masyarakat.
Obsesi
Tim gabungan itu mengadakan serangkaian ekskavasi di Liang Bua pada
September 2003. Setahun kemudian diumumkan, dan langsung menghebohkan
sebab mereka menemukan fosil manusia kecil dari Liang Bua. Fosil itu
berjenis kelamin perempuan dan berusia sekitar 30 tahun, tingginya satu
meter, sudah berjalan tegak, dan diperkirakan meninggal 18.000 tahun
lampau. Liang Bua menyimpan misteri besar untuk menguakkan ironi proses
evolutif dari manusia tegak ke manusia modern/berpikir di Indonesia.
Pak Jono oleh Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia pernah diusulkan sebagai
Bapak Prasejarah Indonesia. “Mereka yang usulkan saya tidak minta,"
katanya merendah. Sementara sampai saat ini, Soejono punya obsesi,
bangsa Indonesia mengembangkan pengetahuan seluas mungkin tentang masa
lalunya sebagai kesatuan integral masa kini.
Keprihatinan arkeologis. Karena keprihatinan itu, walau sudah pensiun
sebagai PNS sejak 1981, sehari-hari masih berada di salah ruang ruangan
Kantor Puslit Arkenas, Pejaten, pukul 10.00-15.00. Dia tenggelam dalam
setumpuk buku, dikitari tanda-tanda penghargaan, deretan disertasi yang
pernah dibimbingnya, dan terus menjadi “tempat bertanya". Sehari-hari
berangkat pulang dari rumah Cipete ke kantor menyopir sendiri,
belakangan ini Soejono merasa keki. “Banyak nyamuk sepeda motor yang
suka zig-zag tak keruan."
►ti(st sularto, Kompas, 20 Oktober 2007)
***
RADEN PANDJI SOEJONO
Ketika masih mahasiswa, ia pernah ''magang'' pada Van Heekeren, arkeolog
ternama Belanda. ''Kami sering melakukan ekspedisi ke daerah terpencil,
dengan peralatan sederhana. Jas hujan saja susah,'' katanya. Begitu Van
Heekeren dan arkeolog Belanda lainnya kembali, Soejono mulai merintis
lembaga kepurbakalaan Indonesia. Antara lain bersama Uka Tjandrasasmita,
Nyonya Sulaeman, dan Soekmono. Anak keenam dari tujuh bersaudara ini,
putra Raden Pandji Soeroso, perintis kemerdekaan itu. Pada mulanya,
Soejono mengambil jurusan sejarah, lalu pindah ke arkeologi. ''Jurusan
ini ternyata lebih sesuai untuk saya,'' katanya.
Tentang arkeologi, ia mengutip cendekiawan Denmark, Worsaae. Bangsa yang
menghargai dirinya sendiri dan kemerdekaannya tidak mungkin puas dengan
hanya memandang kepada masa kininya. Ia harus memberikan perhatian
kepada masa-masa lampaunya.
Mungkin lantaran itu, Soejono baru merasa puas bila berhasil menemukan
sesuatu dalam penggaliannya. Temuan itu akan menjadi bahan penelitian
untuk mengetahui apa yang telah terjadi dengan masa lampau. Penelitian
itu begitu penting baginya. ''Oleh sebab itu, saya sering kali kecewa
bila mendengar komentar yang mengatakan bahwa arkeolog hanya mengejar
benda kuno saja, seperti halnya pencari beling,'' keluhnya.
Namun, ia kini mulai puas karena bidang arkeologi sudah banyak diketahui
orang. ''Sudah banyak koran yang memuat berita arkeologi. Setidaknya hal
itu membuat bidang arkeologi tidak lagi terasa asing. Itulah yang saya
harapkan,'' ujarnya. Menurut Soejono, penelitian kepurbakalaan Indonesia
kini sudah sampai pada taraf kristalisasi.
Selain menjadi dosen luar biasa pada beberapa perguruan tinggi di
Indonesia, ia juga menjabat berbagai jabatan yang semuanya berhubungan
dengan bidang arkeologi. Antara lain sebagai Kepala Pusat Penelitian
Arkeologi Nasional. Ia dijuluki ''barang langka'' dalam dunia prasejarah
di Indonesia.
Lelaki dengan tiga anak ini dalam pidato pengukuhannya sebagai guru
besar luar biasa pada FS UI, Agustus 1984, menjelaskan bahwa arkeologi
mempunyai peranan dalam usaha menggugah rasa kebangsaan. Khusus kepada
keluarganya, ia berkata: ''Kepada istriku, Vasca, dan anak-anakku, Uki,
Hita, Arsa. Mengejar materi arkeologi adalah berbeda dengan mengejar
materi duniawi. Terima kasih atas pengertianmu sekalian selama ini di
kala saya berlanglang buana dan mengembara di pelosok tanah air.''
Ia menyadari, tugasnya telah menyita waktu untuk keluarga. Sebelum
menikah dengan Hanggarina Ambaroekmi Vascayati, 1958, ia sudah mulai
melakukan survei, ekskavasi, rekonstruksi, dan preservasi kepurbakalaan
periode prasejarah, meliputi paleolitik, epi-paleolitik, neolitik, dan
peleometalik sejak 1953. Untuk semua itu, ia sudah menyuruki banyak gua
dan pelosok Nusantara -- sedikitnya dalam 30 tahun perjalanan kariernya.
Ia meraih doktor dari UI, dengan disertasi berjudul Sistem- sistem
Penguburan pada Akhir Masa Prasejarah di Bali. Lebih dari 60 artikel,
kertas kerja, dan prasaran telah ditulisnya.
Tentang adanya pencurian benda-benda purbakala, Soejono berpendapat,
''Yang salah adalah lingkungan di luar kita semua, yang seakan-akan
menciptakan peluang terjadinya pencurian benda kuno,'' katanya kepada
Sinar Harapan. Namun, ia juga mengakui bahwa hal itu tidak saja terjadi
di Indonesia. ''Di luar negeri malah nekat. Pencuri merampok dan
memboyong benda purbakala dengan truk dan cara yang canggih,'' tuturnya.
Ketua Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia ini sangat gembira melihat
perhatian terhadap ilmu arkeologi dari kaum muda sekarang. Soejono, yang
pernah ditawan Belanda ketika bergerilya (1947), ingin menggembleng
mereka menjadi spesialis arkeologi yang bermutu. (sumber: pdat)
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|
|