|
|
 |

Nama:
Ruth Sahanaya
Panggilan:
Uthe
Lahir:
Bandung, 1 September 1966
Suami:
Jeffrey Woworuntu
Ayah:
Mathilde Sahanaya
Ibu:
Alvarez
Album:
Greatest Hits (2002), Kasih (1999), Berserah kepada Yesus (1997), ...Uthe!
(1996), Yang Terbaik (1994), Kaulah Segalanya (1992), Tak Kuduga (1989),
Seputih Kasih (1987).
Prestasi:
Mendapat gelar “Grand Prix Winner” dalam Midnight Sun Song Festival di
Finlandia, 1992
Vokalis tamu dalam konser Mario Mario Frangoulis di Herrod Atticus,
Acropolis, Athena (Yunani), 5-6 Oktober 2002
Duet dengan Phil Perry dalam acara East-West Collaboration in Peace di
Garuda Wisnu kencana, Jimbaran, Bali, Desember 2002
|
|
Ruth Sahanaya
Daya Vokal Pembius Telinga
Kekuatan vokalnya yang khas sanggup membius telinga para pendengar dengan
cara yang tak terlukiskan. Berbagai prestasi internasional sudah diraihnya.
Penyanyi bertubuh mungil dengan tinggi badan 154 cm dan berat 45 kg ini
tetap eksis dan bertahan meskipun penyanyi pendatang baru terus
bermunculan.
Ruth Sahanaya. Sebuah nama yang kerap mengisi berbagai acara konser musik
di tanah air dan mancanegara. Tidaklah mengherankan bila ia mempunyai
barisan penggemar fanatik yang mengidolakannya. “Ia merupakan penyanyi
idola saya dari semasa sekolah dasar sampai dengan kuliah sampai sekarang,”
ujar seorang penggemarnya.
Perempuan Maluku kelahiran Bandung, 1 September 1966 ini mulai
menghasilkan album semenjak tahun 1987 setelah ia meneken kontrak dengan
perusahaan rekaman PT Aquarius Musikindo. Dalam kurun waktu 15 tahun
hingga tahun 2002, Ruth yang akrab dipanggil Uthe, menghasilkan tujuh
album termasuk album Greatest Hits (2002) dengan tambahan lagu baru
berjudul Mengertilah Kasih.
Habis masa kontraknya dengan Aquarius, Uthe
menerima tawaran Sony Music Entertainment Indonesia (SMEI) lalu meneken
kontrak di awal 2002. Uthe bersama suami sekaligus manajernya, Jeffrey
Woworuntu, berharap kerjasama baru ini bisa memasarkan ‘suara’ Uthe lebih
luas, mengingat jaringan Sony yang mendunia, manajemennya yang solid dan
konsep kerjanya yang bagus.
Kini, ia merasa cukup puas bisa mengharumkan nama bangsa lewat berbagai
festival nyanyi bertaraf internasional yang diikutinya. Lewat
festival-festival itu mentalnya ditempa dan kemampuan vokalnya di atas
panggung semakin meningkat.
Festival yang sangat berkesan baginya adalah saat ia menorehkan gelar
“Grand Prix Winner” dalam Midnight Sun Song Festival di Finlandia tahun
1992. Dalam festival ini selain membuat namanya semakin dikenal, nama
Indonesia pun ikut terbawa karenanya.
Prestasi demi prestasi diukirnya. Atas undangan pihak Mario Frangoulis (penyanyi
tenor Yunani), Uthe menjadi vokalis tamu dalam dua kali konser Mario - 5
dan 6 Oktober 2002 - di Herrod Atticus, Acropolis, Athena (Yunani). Dalam
pertunjukan itu, Uthe berduet dengan Mario untuk lagu slow Naturaleza
Muerta.
Meskipun sudah terkenal, Uthe juga aktif dalam berbagai kegiatan sosial.
Untuk menunjukkan bahwa betapa harmonisnya kehidupan antarumat beragama di
Ambon selama ini sebelum konflik, Uthe bergabung dengan kurang lebih 70
artis penyanyi dan pemusik Maluku dalam sebuah acara televisi - iklan
layanan masyarakat - bersama Yopie Latul, Utha Likumahuwa, Jeffrey
Waworuntu, Diana Nasution, Minggoes Tahitu, Eva Arnaz, Andre Hehanusa,
John Tanamal, Hamdan Att, dan yang lainnya.
Ia juga memenuhi undangan
menjadi penyanyi dalam program Bali for the World yang diadakan oleh Bali
Tourism Recovery Committee akhir 2002 lalu, dengan tema East-West
Collaboration in Peace di Garuda Wisnu kencana, Jimbaran, Bali. Di sini ia
berduet dengan Phil Perry menyanyikan lagu What a Wonderful World dan The
Best of Me.
Di samping itu, ia juga menghasilkan beberapa album rohani dan banyak
terlibat dalam kegiatan rohani. Sebagai contoh, ia ikut meramaikan acara
pada malam resepsi peringatan Yubelium 75 tahun Paroki Gereja Santo Yusuf
Jember tahun 2002 yang lalu guna menghibur para undangan dan peserta misa
syukur agung dengan menyanyikan lagu-lagu rohani.
Melihat perjalanan karirnya, perempuan dengan dua putri ini merasa sangat
bersyukur. Ia mengatakan bahwa kunci keberhasilannya adalah karena ia
selalu berusaha enjoy dengan pekerjaannya. Baginya profesi menyanyi yang
dijalaninya bukanlah sebuah beban sebab itu adalah pemberian Tuhan.
Pengharapannya di dalam Tuhan membuat ia tidak takut menjalani semuanya
itu. Mungkin semangat inilah yang akhirnya membuat Uthe dan suaminya
memberi nama untuk anak pertamanya dengan nama Nadine yang dalam bahasa
Perancis berarti pengharapan. (Atur)
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|
|