| |
C © updated 14092004 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/tempo |
|
| |
Nama:
Laksamana TNI (Purn) Sudomo
Lahir:
Malang, 20 Sep 1926
Jabatan Penting:
Pangkopkamtib
Menteri Tenaga Kerja 19 Maret 1983 - 22 Maret 1988
Ketua DPA
Hobi:
Menyelam dan Golf
Organisasi:
Ketua Umum PGI
Ketua Umum Perhimpunan Manajemen Mutu Indonesia
Sumber:
Republika Jumat, 05 Juli 2002 |
|
| |
|
|
|
|
Laksamana TNI (Purn) Sudomo
Menemukan Hidup Kembali
Mantan Pangkopkamtib di era Soeharto ini mengaku di usia tuanya merasa
terlahir kembali atau justru menemukan hidupnya kembali. Dia merasa lebih
tenang dan khusyuk. ''Kalau orang lain berkata hidup dimulai umur 40 tahun,
saya justru mulai umur 75 tahun,'' kata Sudomo. Dia yang pernah murtad,
kembali lagi pada keyakinannya semula.
Bukan tanpa alasan bila penggemar olahraga golf ini berkata demikian. Dia
mengaku hampir sebagian besar usianya dilalui dengan gundah dan gelisah.
Salah satu penyebabnya karena sosok yang menghabiskan sebagian besar
umurnya - 53 tahun di pemerintahan dengan berbagai jabatan -sebagai umaro
ini pernah murtad. Itu semua menjadi penyebab jauhnya ketenangan dari
hidupnya.
''Terus terang saja dan bukan rahasia umum, saya dulu kan murtad,'' kata
Sudomo sambil tertawa. ''Dan celakanya semua itu saya lakukan tanpa pikir
panjang dan memberi tahu orang tua,'' lanjutnya saat ditemui di
kediamannya yang sejuk di Pondok Indah, Jakarta, beberapa waktu lalu.
Wajahnya berubah serius.
Seiring waktu, Sudomo pun merindukan ketenangan hati dan kembali pada
keyakinannya semula. ''Kasih sayang Allah pada hamba-Nya lebih luas
daripada murka-Nya.'' Sudomo merasakan betul makna ayat itu. Waktu
membawanya ke kota kelahirannya, Malang. Saat itu, bertepatan 22 Agustus
1997, ia melihat Masjid Al Huda di kompleks Kostrad Malang. Hatinya
tersentuh. Diapun memutuskan untuk kembali.
''Itu peristiwa luar biasa. Nama masjid itu sendiri berarti petunjuk. Dan
di situ saya mendapat petunjuk. Mungkin ini hikmah dari doa orang tua saya
yang selalu berdoa agar saya kembali,'' kenang Sudomo yang tampak lebih
gemuk. Ia baru saja keliling Eropa sebulan penuh.
Peristiwa itu laiknya sebuah kelahiran bagi dirinya dan anugerah yang luar
biasa dari Yang di Atas. ''Saya sangat senang diberi kesempatan bertobat.
Bayangkan kalau saya meninggal sebelum bertobat bisa-bisa masuk neraka
saya,'' ujarnya.
Sebagai rasa syukur, tahun itu juga Sudomo menunaikan umrah pertamanya.
Ibadah haji dia lakukan tahun berikutnya. Sampai sekarang sudah lima kali
ia berumrah. Ia mengaku punya pengalaman aneh saat menjadi tamu Allah.
Peristiwa tersebut dialami saat menunaikan ibadah haji 1998 dan 2002.
Ketika tawaf Sudomo ingin berada sedekat mungkin dekat Ka'bah. Ia pun
berdoa dan membaca Asmaul Husna. Tiba-tiba ia merasa Ka'bah sangat dekat
dengan dirinya.
''Barisan orang yang sedang tawaf seperti terbuka begitu saja
sampai-sampai ustadz saya mengikuti dari belakang mendekati Ka'bah.
Alhamdulillah,'' kata Sudomo mengenang kejadian itu. ''Doa di sana memang
sangat mustajab,'' lanjut Sudomo.
Setelah semua yang dilalui, Sudomo yang tetap rutin menyelam tiga bulan
sekali, mengaku lebih tenang dan bahagia. Shalat lima waktu pun selalu
tepat waktu dijalankan. Ia melakukan shalat Shubuh di Masjid Al Ihsan
Kebayoran Baru tiap hari. Di situ ia berjumpa guru spiritualnya Mawardi
Labai.
Tentang hobi menyelamnya itu Sudomo mengaku membawanya semakin dekat
dengan Allah. ''Saat kita di bawah, bersama dengan ikan warna-warni dan
gugusan karang serta sinar matahari yang menembus ke bawah, Allah terasa
semakin dekat,'' katanya puitis.
Kini sebagian besar waktunya praktis digunakan untuk mempelajari dan
mendalami agama, beribadah, beramal, serta sesekali berdakwah untuk
kalangan terbatas. Sebuah yayasan, Husnul Khotimah ia bangun pada 1998
untuk mewadahi semua kegiatan. Sebuah desa kecil di Bogor, Cijayanti,
menjadi ladang persemaian pertobatannya.
Dengan selera humor yang tak pernah kering, Sudomo mengatakan bahwa apa
yang ia lakukan kini tak lebih dari sebuah penanaman modal akhirat atau
PMA. Semua kegiatan itu, menurutnya memberikan kebahagiaan yang tidak
dapat diukur dengan materi yang belum pernah didapat sebelumnya.
Terakhir, yang ingin dilakukan adalah menjadi ustadz. Saat ini apa yang
dilakukan baru membawa dirinya seorang 'ulama' kependekan dari usia lanjut
makin agresif. Dia mengatakan harus agresif dalam amal dan ibadah.
Manajemen Mutu
Sudomo selaku Ketua Umum Perhimpunan Manajemen Mutu Indonesia, “setelah
pencanangan Konvensi Mutu Indonesia pada November 1991 tidak ada lagi
kegiatan yang menyangkut mutu di Indonesia”, padahal ada dua departemen
yang bertugas tentang itu, yaitu Departemen Perindustrian dan Tenaga Kerja.
Namun kenyataannya yang aktif hanya Perhimpunan Manajemen Mutu Indonesia.
Atas hal demikian, Sudomo sangat menyayangkannya dan mengatakan, “padahal
saat sekarang kita harus segera beradaptasi dengan akselarasi perubahan
yang terjadi di dunia persaingan era globalisasi”.
Menurut Sudomo, “saat ini kita memerlukan pemimpin negara yang memiliki
ciri Good Governance, memiliki manajerial skill, panutan masyarakat banyak
dan ambeg paramaarta”. Sehingga dengan demikian menurutnya, Negara kita
akan lebih cepat dapat menyesuaikan dengan perubahan yang terjadi di dunia
ini. ►tsl
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|
|