| |
C © updated 05062008 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/rpr |
|
| |
Biodata
Nama:
Prof Dr Tamrin Amal Tomagola
Lahir:
Galela, Halmahera Utara, 17 April 1947
Agama:
Islam
Isteri:
Siti Hidayati, MA
Anak:
Fathia Aigate, SH
Ayah:
Ali Amal
Ibu:
Afiah Amal
Pendidikan:
1. SD Galela (1959)
2. SMP Ternate (1962)
3. SMA Ternate (1965)
4. Sarjana (S1) Jurusan Sosiologi FISIP UI (1974)
5. MA (S2) bidang demografi sosial, Canbera, Australia, (1982)
6. Ph.D (S3) bidang sosiologi media, University of Esex UK (1990)
7. Kursus metodologi penelitian sosial dan statistik sosial Universitas
Leiden, Belanda (1977-1978)
Karir :
1. Dosen dan Guru Besar FISIP UI, (1993-sekarang)
2. Asisten Menteri Kependudukan Urusan Pengembangan (1993-1998)
3. Dekan Ffakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Indonesia
(1988-2000)
4. Deputi Menegristek Bidang Dinamika Masyarakat (2000-2003)
Kegiatan Lain:
1. Koordinator Lerai (sejak 1999 – sekarang)
2. Sekretaris Jenderal Asosiasi Sosiolog Indonesia (1993-1998)
3. Aktif sebagai narasumber diberbagai forum nasional dan internasional
di antaranya Asian Conference on Diversity and Coexistence di Srilangka
pada 2003, Regional Workshop on Indigenous Peoples and Poverty Reduction
yang diselenggarakan oleh ADB, Manila, 25-26 October 2001, International
Workshop on Political Violence in Asia di Oslo, Norwegia pada tahun
2000, ESCAP Meeting on Culture and The Care of The Elderly, Bangkok
1998.
Penghargaan:
- Dosen Teladan Fisip UI 1982
- Dosen Favorit di FISIPOL UI pada tahun 2001.
- Piagam penghargaan atas Partisipasi dan Jasa-jasa dalam membantu
Penegakan Ham di Indonesia
Alamat Rumah:
Perumahan Permata Arcadia Blok L1/2 Sukatani, Cimanggis, Depok, Jawa
Barat
|
|
| |
|
|
|
|
| BIOGRAFI |
|
|
 |
Tamrin Amal Tomagola
Profesor Pencegah Konflik Komunal
Profesor Sosiologi dari Universitas Indonesia ini sangat banyak tahu
tentang konflik komunal yang belakangan sering terjadi di Indonesia.
Doktor bidang sosiologi media, University of Esex UK (1990), kelahiran Galela, Halmahera Utara, 17 April 1947,
ini sangat banyak menulis perihal konflik komunal tersebut.
Peraih gelar master
(MA) dari Australian National University, Australia (1982), menjabat dekan
Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Indonesia (1988-2000) dan Staf Ahli Menteri Menteri Negara Riset dan Tehnologi
(2000-2003). Pengajar pasca-sarjana FISIP-UI, ini menjabat Sekjen Asosiasi Sosiolog Indonesia selama
dua periode (1993-1998).
Sebagai dosen, dia pernah mendapat berbagai penghargaan
di antaranya sebagai dosen teladan di Fakultas Sosial dan Politik , UI
(1982) dan Dosen Favorit di FISIPOL UI (2001). Dia juga menerima Piagam penghargaan atas Partisipasi dan Jasa-jasa dalam
membantu Penegakan Ham di Indonesia.
Suami dari
Siti Hidayati, MA, ini sangat aktif menulis diberbagai jurnal dan media tentang masalah
sosial seperti Konflik Komunal di Indonesia tahun 2003, Halmahera
berdarah tahun 2000, Tragedi Maluku Utara tahun 2000 serta
tulisan-tulisan lain yang terkait dengan sosial, politik, militer dan
konflik . Ia juga menulis tentang masalah sosial dan gender.
Dia juga aktif sebagai narasumber di berbagai forum nasional dan internasional di
antaranya Asian Conference on Diversity and Coexistence di Srilangka
pada 2003, Regional Workshop on Indigenous Peoples and Poverty Reduction
yang diselenggarakan oleh ADB, Manila, 25-26 October 2001, International
Workshop on Political Violence in Asia di Oslo, Norwegia pada tahun
2000, ESCAP Meeting on Culture and The Care of The Elderly, Bangkok
1998.
Masa Kecil
Masa kecil, sejak lahir hingga sekolah dasar, ia tinggal Galela, Halmahera Utara.
Sejak sekolah dasar, ia sudah senang pelajaran sejarah. Setamat SD
(1959), dia melanjut ke SMP Ternate (1962) dan SMA Ternate (1965) SMP
dan SMA). Setelah tamat SMA,
Tamrin ingin melanjut ke universitas. Tapi karena ketiadaan biaya, dia
pulang ke Galela, mengajar SMP, untuk cari uang.
Setelah punya tabungan, Tamrin berangkat ke Jakarta, untuk mewujudkan
impian
melanjutkan sekolah ke Universitas Indonesia. Ia menumpang kapal
carteran pedagang Arab yang penuh kopra. Tapi, di perjalanan uangnya
sudah habis. Dia beruntung di kapal itu berkenalan dengan Al Habsy, seorang keturunan
Arab.
Saat mendarat di Jakarta, uangnya hanya sedikit. Untuk biaya tes
masuk UI pilihannya saja tidak cukup. Seorang
familinya, membantunya sehingga Tamrin dapat mengikuti tes. Dia memilih Jurusan Sosiologi FISIP
UI dan lulus tes. Dia tidak memilih keinginan ayahnya, Ali Amal seorang guru dan aktivis Muhammadiyah,
agar memilih jurusan ilmu pasti dan menjadi dokter.
Bukan hanya ayahnya yang menentang pilihannya, seorang pamannya
bekerja sebagai jaksa, malah menyuruhnya lebih baik pulang untuk mengurus kebun
kelapa daripada memilih jurusan sosiologi. Namun anak sulung dari
sepuluh bersaudara ini berketetapan memilih jurusan sosial dan ingin menjadi
guru.
Selama kuliah di Jakarta, dia tinggal dalam satu keluarga dengan Ahmad Sulaeman,
anggota DPR dari Masyumi, di daerah Kramatjati, Jakarta Timur. Suatu
ketika, karena ketiadaan uang, dia pernah jalan kaki dari Kramatjati
sampai ke kampus di Salemba. Setelah tingkat dua, dia berusaha mencetak diktat kuliah pembangunan sosial dan menjualnya ke
teman-temannya. Hasilnya, cukup
untuk naik angkot dari Kramatjati sampai Salemba dan makan siang.
Melihat kegiatannya jualan diktat, ada saja orang yang sirik dan melaporkan kepada dosen, Soerjono
Wirjodiatmodjo. Dia sempat takut akan dimarahi. Tapi, ternyata sang
dosen tidak marah, malah mengangkatnya
menjadi asisten. Sebagai asisten dosen, dia mendapat honor Rp 25 per bulan.
Untuk menambah pundi-pundi, Tamrin juga bekerja sambilan di perpustakaan.
Melihat kegigihannya, sudah meraih sarjana muda, pembantu dekan II
membantu menguruskannya menjadi
pegawai negeri golongan 2B (1970). Dia pun rajin mengikuti survei untuk mendapat
biaya kuliah. Pada saat melaqkukan survei itu ia berkenalan dengan Siti Hidayati,
yang kemudian dinikahinya tahun 1972 dan dikaruniai satu
anak,
Fathia Aigate. Setelah menikah barulah dia lulus S1 dengan spesialisasi sosiologi umum pada 1974,
dan menjadi
pengajar di almamaternya.
Kemudian Thamrin memperoleh beasiswa studi S2 ke Canbera, Australia dengan
spesialisasi sosial demografi. Lulus 1982 dengan tesis berjudul:
Educational Defferences in West Java and West Sumatera: Sosio-historical
Perspektives. Lalu, Tamrin mengikuti
kursus ilmu statistik di Belanda.
Keberuntungan kembali menghinggapinya saat terikat kontrak dengan LP3ES untuk sebuah
penelitian di Semarang, ia
mendapat beasiswa untuk studi S3 di Inggris. Tamrin
melepaskan tugas penelitian tersebut setelah ada yang menggantikannya.
Dia meraih
gelar Ph.D. pada 1990 dengan disertasinya berjudul Indonesian Woman
Magazines as an Ideological Medium.
Ketika mahasiswa bergerak menyuarakan reformasi, Tamrin ikut berperan
sebagai aktor intelektual dalam gerakan penurunan
Presiden Soeharto. Ketiaka Pak Harto pulang dari Mesir, ia ikut demo di UI.
Bukan itu saja, bahkan membuat pengumuman mogok kuliah sampai Soeharto berhenti jadi
presiden.
Kemudian Thamrin aktif di LSM Lerai, yang punya misi
memperjuangkan perdamaian di Maluku. Hatinya menangis melihat saudara-saudaranya
saling bunuh-bunuhan di Maluku. Banyak teman-temannya yang Kristen dan
Islam, yang ketika kecil sangat akrab, tapi saat kerusuhan itu jadi bunuh-bunuhan.
Bayangan teman-temannya waktu kanak-kanak dan mati oleh teman sendiri terus
membayangi dirinya. Dia menghadapi banyak tantangan dalam
aktivitas LSM-nya, di antaranya di intimidasi dan dilaporkan ke polisi. ►ti/chr
Dari sumber:
http://www.komunitasdemokrasi.or.id/tamrin-amal-tomagola.php dan
www. pdat.co.id
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|
|